Dharma Wacana

Fenomena `Mangku Lebih’ di Masyarakat, Setiap Orang Boleh Mewinten, Tapi Perhatikan Ini

Bahkan istilah yang lebih keras lagi ialah ‘mangku stres’ atau orang yang menjadi pemangku atas kehendaknya sendiri untuk menghindari suatu masalah.

Fenomena `Mangku Lebih’ di Masyarakat, Setiap Orang Boleh Mewinten, Tapi Perhatikan Ini
TRIBUN BALI
IDA PANDITA MPU JAYA ACHARYA NANDA

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Belakangan ini kerap kita saksikan fenomena adanya pemangku instan, yakni tetangga maupun krama desa pakraman tempat ia tinggal tidak mengetahui kapan dia mediksa dan didiksa sebagai jro mangku serta di pura apa.

Terhadap pemangku yang seperti itu, masyarakat kerap menjulukinya sebagai ‘mangku lebih’ atau pemangku yang tidak memiliki pura.

Bahkan istilah yang lebih keras lagi ialah ‘mangku stres’ atau orang yang menjadi pemangku atas kehendaknya sendiri untuk menghindari suatu masalah.

Sebenarnya, apa yang terjadi saat ini adalah akibat dari perubahan ideologis yang disebut ideoscape.

Latar belakangnya ialah demokratisasi.

Ketika demokratisasi terjadi di wilayah agama, maka semua serba ‘dibolehkan’.

Akhirnya, pembolehan yang kebablasan itu menyebabkan penyalahgunaan status kepemangkuan.

Pemangku atau jro mangku merupakan orang yang memiliki modal simbolik berupa otoritas.

Terkadang hal inilah yang disalahgunakan oleh sebagian orang, sehingga muncullah fenomena `mangku lebih`.

Namun hal ini jarang terjadi, karena `mangku lebih` ini justru lahir tanpa otoritas.

Halaman
1234
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved