Dharma Wacana
Fenomena `Mangku Lebih’ di Masyarakat, Setiap Orang Boleh Mewinten, Tapi Perhatikan Ini
Bahkan istilah yang lebih keras lagi ialah ‘mangku stres’ atau orang yang menjadi pemangku atas kehendaknya sendiri untuk menghindari suatu masalah.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Selanjutnya adalah kecerdasan spiritual, dan hal ini sulit ditata.
Sebab ini hubungan personal sekali antara jiwa pribadi dengan jiwa universal (Tuhan).
Ketika seseorang memiliki kecerdasan ini, tentu dia akan memiliki sebuah kecerdasan dewata.
Selanjutnya, kecerdasan sosial.
Bagaiana mungkin orang menjadi pemangku, kalau masa lalunya tidak pernah menjadi sebuah ikon atau memiliki nilai lebih dalam struktur masyarakat.
Kalau sudah seperti itu, bagaimana bisa dia memiliki kecerdasan sosial?
Jangan-jangan, untuk mendapatkan prestise baru, dia menjadi pemangku.
Padahal penghargaan itu semestinya harus ada sebelum menjadi pemangku.
Dalam ajaran agama Hindu, memang setiap orang boleh mewinten, karena itu hak pribadi.
Meski demikian, dalam ritual mewinten harus tetap melibatkan prajuru supaya tidak menimbulkan ketidakharmonisan di desa setempat.
Dan, hal ini juga untuk menghindari istilah `mangku lebih` atau `mangku bodong`.(*)