Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Liputan Khusus

Magang di Amerika Bergaji Besar, Mahasiswa asal Bali Ini Blak-blakan Pilih Pulang, Begini Sebabnya

Saat sebagian besar mahasiswa magang tergiur tetap bertahan di Amerika Serikat meski kontraknya sudah habis, tidak demikian dengan I Made Bagus

Tayang:
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Ady Sucipto
Istimewa
I Made Bagus Dwiki Wiguna (kedua kiri) bersama rekan-rekannya saat magang di Amerika Serikat. Dwiki pilih pulang setelah masa kontraknya habis. 

Dwiky Pilih Pulang Hindari Status Ilegal

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Saat sebagian besar mahasiswa magang tergiur tetap bertahan di Amerika Serikat meski kontraknya sudah habis, tidak demikian dengan I Made Bagus Dwiky Wiguna.

Mahasiswa STPBI Denpasar ini memilih pulang ke Bali.

Meski digaji besar, namun Dwiky memutuskan pulang setelah masa kontraknya habis di Amerika. Ia mengaku tidak ingin menjadi warga ilegal.

"Dan uang deposito Rp 40 juta itu pun dikembalikan beberapa hari setelah saya tiba di Bali. Semua yang berangkat bareng dengan saya, sudah pulang," ujar Dwiky kepada Tribun Bali pekan lalu.

Dwiky yang baru-baru ini datang dari magang kerja di Amerika Serikat pun menceritakan bagaimana kesehariannya selama setahun menjalani magang di negara adidaya itu.

Dwiky mengaku sangat beruntung bisa mengikuti training tersebut. Ia merasakan perubahan yang luar biasa ketika sudah balik dari Amerika.

"Yang utama saya bisa perbaiki skill di dua bidang. Pertama skill bahasa Inggris yang saya rasakan semakin meningkat pesat karena kami di sana berkomunikasi dengan orang-orang lokal Amerika. Yang kedua skill dalam layanan food and beverage di restoran jadi lebih mahir," tuturnya.

Ia mengaku, tidak seharian bekerja saat magang di Amerika. Jam kerja Dwiky saat magang rata-rata 8 sampai 12 jam per hari.

Per jam, Dwiky mengaku dibayar 5,75 dolar AS atau setara dengan Rp 77 ribu.

"Rata-rata penghasilan per bulan Rp 22 juta. Kadang bisa lebih," kata Dwiky.

Dalam sebulan, rata-rata lelaki berusia 21 tahun ini menghabiskan biaya hidup 600 dolar AS atau setara dengan Rp 7.800.000.

Duit itu ia gunakan untuk bayar housing, beli bahan makanan, uang transportasi, dan liburan.

Setiap bulan, apabila tidak ada keperluan yang mendesak, lelaki asal Tabanan ini selalu mentransfer duit ke orangtuanya di Bali.

"Transfernya tergantung dapat gajinya. Soalnya saya utamakan biaya hidup di sana," katanya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved