Taman Mumbul dengan Panglukatan Pancoran Solas di Sangeh, Simbol Dewata Nawasanga

Tiba-tiba saja tanah yang ditumpahi air tersebut justru memunculkan air yang tak henti-hentinya hingga membentuk kolam besar.

Tribun Bali/I Made Prasetya Aryawan
Pancoran Solas di Banjar Brahmana, Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Setiap banjar atau desa yang ada di Bali pasti memiliki ciri khas ataupun cerita sejarah yang unik.

Salah satunya adalah Banjar Brahmana, Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Badung, Bali.

Desa yang dihuni 700-800 kepala keluarga (KK) atau 2.500 warga lebih ini memiliki kawasan Taman Mumbul atau yang biasa dikenal dengan tempat panglukatan pancoran solas dan kolam besar yang disucikan.

Bendesa Adat Sangeh, IB Dipayana menuturkan, kisah dari adanya kolam besar atau warga setempat menyebutkan bembengan yang disucikan ini bermula dari cerita para orang tua setempat.

Konon, suatu hari ada seorang perempuan penjual air minum melewati kawasan tersebut.

Karena lelah melewati desa demi desa, dia memilih untuk istirahat di kawasan sumber air saat ini.

Diceritakan, ketika istirahat, karena air minumnya tidak terjual semuanya, dia pun memilih meminum air jualan dan kemudian menumpahkan atau membuang air tersebut ke tanah atau saat ini merupakan sumber mata air di kawasan Taman Mumbul ini.

Tiba-tiba saja tanah yang ditumpahi air tersebut justru memunculkan air yang tak henti-hentinya hingga membentuk kolam besar.

Terhitung waktu itu, sumber air tersebut pun digunakan warga setempat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan saat ini sudah menjadi lokasi suci yang digunakan juga untuk upacara keagamaan warga setempat seperti Melasti dan lain sebagainya.

“Jadi awal mula ceritanya seperti itu, hingga saat ini sudah menjadi tempat atau lokasi suci hingga menjadi tempat wisata,” tutur Dipayana.

Dia melanjutkan, selain menjadi sumber air warga setempat, air yang bersumber dari kolam besar ini juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan air pertanian setempat dalam hal ini di subak (saluran irigasi persawahan) tepatnya di Subak Sangeh.

Simbol Kekuatan Dewata Nawasanga

Bendesa Adat Sangeh, IB Dipayana menerangkan, selain menjadi sumber air untuk warga dan subak, air ini juga digunakan atau dimanfaatkan untuk melakukan panglukatan (pembersihan diri) atau yang lebih dikenal saat ini adalah Panglukatan Pancoran Solas.

Penglukatan Pancoran Solas di Sangeh ini, memiliki 11 buah pancuran yang mana setiap pancuran sebagai simbol dari kekuatan Tuhan, yaitu simbol dari kekuatan Dewata Nawasanga yang menjaga sembilan penjuru mata angin.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved