Liputan Khusus
Fotografer Prewedding China Geser Fotografer Bali, Tarif Ganda Objek Wisata Kini Dirasa Memberatkan
Menurut Agung, seharusnya pemerintah mendukung para fotografer lokal yang sudah mau berwirausaha.
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Eviera Paramita Sandi
"Jadi rentetan dampak positifnya banyak jika usaha foto prewedding lokal menggeliat. Katanya akan mengurangi angka pengangguran, kalau pemerintah tidak men-support usaha lokal apakah tidak justru menghilangkan lapangan kerja," kata Agung Mulyajaya.
Ia berharap pemerintah menurunkan tarif untuk WO dan fotografer prewedding lokal, bahkan sebisanya tidak mengenakan tarif sama sekali untuk mengambil foto di seluruh objek wisata di Bali yang notabene adalah tempat umum.
Kalau tarif tinggi dikenakan ke WO dan fotografer asing, baginya itu tak masalah.
"Saya ibaratkan, fotografer lokal menanggung beban ganda. Bayar biaya masuk objek wisata dan bayar fee lokasi pemotretan. Sementara itu, banyak fotografer asing yang ilegal di Bali. Mereka ada yang stay lama, dan ambil lahan yang biasanya dikerjakan oleh fotografer lokal. Kalau cuma bawa klien trus pulang sih gak masalah," ungkap Agung Mulyajaya.
Selama ini, tempat-tempat favorit untuk pengambilan foto prewedding fotografer dari WO asing adalah Pantai Balangan, Pantai Tegalwangi, Pantai Melasti dan Monumen Bajra Sandhi Denpasar.
Berdasarkan pantauan Tribun Bali, setiap hari sejumlah fotografer asal China mengalir mendatangi monumen Bajra Sandhi.
Mereka melakukan pemotretan prewedding terhadap klien dari negaranya sendiri.
Ada yang memilih tempat di areal luar, ada juga yang di tangga klasik yang terdapat di monumen bersejarah ini.
"Banyak fotografer asing, khususnya China, yang ambil foto prewedding di sini. Setiap hari ramai. Kalau dibandingkan, dari 10 fotografer prewedding yang datang setiap hari ke sini, 6 di antaranya asing, sisanya baru lokal," kata seorang petugas jaga loket di UPT Bajra Sandhi Denpasar kepada Tribun Bali pekan lalu.
Kepala UPT (Unit Pelaksana Teknis) Bajra Sandhi, Dewa Ardhana mengatakan, rata-rata per hari ada delapan permintaan foto prewedding di Bajra Sandhi.
Mereka rata-rata adalah warga negara asing yang membawa fotografer sendiri alias tidak menggunakan jasa fotografer lokal.
"Tahun 2017, jumlah yang terdata melakukan foto prewedding dari warga asing sebanyak 2.734 pasangan. Sedangkan dari lokal sekitar 800-an pasangan," kata Ardhana.
Untuk foto prewedding di Banjra Sandhi, kata Ardhana, dikenakan biaya sebesar Rp 1 juta bagi warga asing, dan Rp 500 ribu untuk warga Indonesia.
Menurut Ardhana, tarif foto prewedding ini telah ditentukan dalam peraturan daerah (perda) yang disetujui oleh DPRD dan Gubernur Bali.
"Kami cuma melaksanakan perda saja. Karena perda menyebut tarif segitu, ya kami kenakan segitu juga. Cuma sekarang kami sudah sediakan fasilitas ruangan untuk yang hendak prewedding," jelas Ardhana.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/turis-fotografer_20161003_111602.jpg)