Liputan Khusus
Fotografer Prewedding China Geser Fotografer Bali, Tarif Ganda Objek Wisata Kini Dirasa Memberatkan
Menurut Agung, seharusnya pemerintah mendukung para fotografer lokal yang sudah mau berwirausaha.
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Eviera Paramita Sandi
Terkait keluhan KFVB yang tidak setuju dengan penerapan tarif prewedding di objek-objek wisata umum di Bali seperti Bajra Sandhi, Ardhana tidak bisa berkomentar. Sebab, dirinya tidak bisa dan tak berhak mengubah kebijakan tersebut.
"Seharusnya kalau tidak sepakat yang disampaikan saat ada sosialisasi dulu. Ini sudah dibahas di dewan, dan sebelum ditetapkan kan sudah ada sosialisasi. Seharusnya kesempatan itu dimanfaatkan untuk menyampaikan keberatan atau masukan," jelas Ardhana seraya mempersilakan para fotografer yang protes untuk menyampaikannya ke dewan atau gubernur Bali.
Seorang fotografer prewedding yang kerap kritis terhadap banyaknya fotografer ilegal di Bali, Ida Bagus Adi Guna alias Gusmank, mengungkapkan jumlah fotografer asing, khususnya China. makin menjamur di Bali .
Menurutnya., itu terjadi sejak dua tahun lalu.
Kata Gusmank, mereka biasanya mencari lokasi di sejumlah tempat di Bali, seperti di Pantai Balangan, Melasti, Tegalwangi, dan Bajra Sandhi, Denpasar.
"Kita bisa lihat di beberapa spot terkenal seperti Pantai Balangan, Melasti, Tegalwangi maupun Bajra Sandi, Renon. Ada puluhan fotografer asing berkumpul di daerah tersebut pada jam-jam menjelang matahari tenggelam," kata Gusmank kepada Tribun Bali.
Menurut pria asal Tampak Siring ini, jika dilihat dari segi pariwisata, hal ini berdampak sangat bagus. Sebab, promosi lokasi foto di Bali makin tersebar luas di luar Bali.
"Walau tanpa mereka (fotografer asing) pun, fotografer Bali sesungguhnya sudah memang sudah bersaing di dunia international," jelas pria 31 tahun ini.
Menurut Gusmank, yang sedang menjadi perhatian adalah ketika para fotografer asing ini tidak bekerja berdasarkan aturan dan etika yang berlaku di Indonesia.
Rata-rata, mereka bekerja di Bali tanpa mengantongi Izin.
Para turis itu berbekal visa kunjungan, dan seperti yang sudah banyak beredar, memang mereka tidak mengindahkan etika ketika memotret di kawasan suci di Bali.
"Pura dan tempat-tempat suci lainnya merupakan tempat favorit wisatawan luar untuk melakukan foto selama di Bali. Dan ini lah yang menurut kami cukup merugikan, karena beberapa desa adat sudah ada yang memberi kebijakan untuk melarang kegiatan photo shooting di sekitar kawasan pura mereka," jelas Gusmank.
Ia mengatakan, dari segi persaingan bisnis, tentu ada beberapa studio foto yang mengalami penurunan omzet akibat keberadaan fotografer asing ini.
Terutama yang memiliki target market wisatawan China.(win/zan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/turis-fotografer_20161003_111602.jpg)