Liputan Khusus
Fotografer Prewedding China Geser Fotografer Bali, Tarif Ganda Objek Wisata Kini Dirasa Memberatkan
Menurut Agung, seharusnya pemerintah mendukung para fotografer lokal yang sudah mau berwirausaha.
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Eviera Paramita Sandi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Penyelenggara pernikahan (wedding organizer/WO) asal China, termasuk di dalamnya fotografer prewedding, marak beroperasi di Bali dalam tiga tahun terakhir.
Keberadaan mereka membuat sejumlah tempat favorit di Bali untuk pengambilan foto prewedding memasang tarif.
Namun, fotografer prewedding lokal jadi terkena imbasnya.
Ketua Komunitas Foto Video Bali (KFVB), Agung Mulyajaya, menyayangkan tempat-tempat wisata umum di Bali kini memasang tarif dobel, yakni tarif masuk dan tarif untuk kegiatan pemotretan prewedding yang jauh lebih mahal.
Menyampaikan aspirasi puluhan fotografer dan videografer lokal yang tergabung dalam KFVB, Agung mengatakan tarif dobel itu memberatkan fotografer dan videografer lokal.
Di sisi lain, fotografer dan WO asing ilegal marak di Bali untuk menggarap klien dari negaranya sendiri yang adakan acara prewedding dan wedding di Bali.
Kondisi tersebut memakan peluang pekerjaan dari WO dan fotografer lokal.
"Ini kami sayangkan. Kenapa di tempat-tempat umum itu ada tarif untuk foto prewedding dan jumlahnya lumayan besar. Kalau kepada fotografer asing silakan saja, tapi fotografer lokal jelas berat. Apalagi bagi fotografer pemula,” kata Agung, fotografer kawakan asal Negara (Jembrana), kepada Tribun Bali, Senin (19/3/2018) lalu.
Menurut Agung, seharusnya pemerintah mendukung para fotografer lokal yang sudah mau berwirausaha.
Bahkan, diantara mereka ada yang sudah mempekerjakan orang.
Apabila dikenakan tarif yang tinggi, pekerjaan mereka bisa terancam.
Apalagi, kini WO dan fotografer lokal terdesak oleh maraknya WO asing di Bali, dan mereka menangani langsung kliennya dari negara asal.
Mereka tak gandeng WO atau fotografer lokal.
"Bayangkan ini nyame Bali juga dikenakan tarif tinggi. Pemerintah sering berteriak mari tumbuhkan usaha kreatif, mari ciptakan lapangan pekerjaan, tapi di sisi lain mereka kok malah tidak men-support yang sudah ada," kata Agung Mulyajaya.
Agung mengatakan, sebetulnya semakin banyak kegiatan foto prewedding oleh fotografer dan WO lokal, maka usaha-usaha lain yang terkait seperti tukang rias dan salon juga terangkat nasibnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/turis-fotografer_20161003_111602.jpg)