Sasar 962.810 Anak di Bali, Imunisasi Japanese Ecephalitis (JE) Capai 55 Persen

Pemberian imunisasi JE yang menyasar sebanyak 962.810 anak dengan rentang usia sembilan bulan hingga 15 tahun ini

Sasar 962.810 Anak di Bali, Imunisasi Japanese Ecephalitis (JE) Capai 55 Persen
AFP / LUIS ROBAYO
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dinas Kesehatan Provinsi Bali turut menyukseskan gerakan vaksinasi Japanese Encephalitis (JE) secara nasional.

Pemberian vaksin secara menyeluruh ini ditargetkan selesai dalam kurun waktu dua bulan, mulai Maret hingga April 2018 mendatang.

Dinkes Provinsi Bali berhasil melangsungkan imunisasi serentak dan telah mencapai separuh cakupan dari target mencapai 55 persen.

Sementara, target cakupan imunisasi Dinkes hingga April 2018 mendatang mencapai 95 persen. Tersisa 45 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr Ketut Suarjaya mengatakan, pihaknya tetap optimistis untuk menuntaskan sisa cakupan imunisasi pada April 2018 mendatang.

“Imunisasi JE di seluruh Provinsi Bali di bulan ini (Maret) sudah mencapai 55 persen. Masih ada sisa 45 persen dari target kita, minimal 95 persen hingga April nanti," kata Suarjaya optimis saat dikonfirmasi, Jumat (30/3/2018).

Pemberian imunisasi JE yang menyasar sebanyak 962.810 anak dengan rentang usia sembilan bulan hingga 15 tahun ini telah disiapkan jumlah vaksin sebanyak 1.200.000 dosis.

Pemberian vaksin di Bali ini memang dibagi menjadi dua tahap pelaksanaan. Pada bulan Maret ini, target imunisasi ini hanya mencakup lingkungan pendidikan seperti PAUD, TK, SD, dan SMP Se- Provinsi Bali.

Untuk bulan April mendatang, imunisasi JE tahap dua akan menyasar cakupan yang lebih luas seperti di Posyandu, Pustu, Puskesmas, Rumah Sakit dan Pos Pelayanan Imunisasi JE.

Pemberian vaksin JE ini cukup penting mengingat kasus kejadian korban terjangkit virus ini terus dijumpai tiap tahun sejak 2016 silam.

Sebagai informasi, virus yang disebut arbovirus ini merupakan penyakit penyebab peradangan otak pada hewan dan manusia.

Gejala terjangkit penyakit JE ini hampir mirip dengan gejala penyakit Demam Berdarah (DB) seperti sakit kepala, mual, muntah-muntah dan demam.

Hanya saja, gejala JE disertai dengan kejang-kejang yang berakibat fatal seperti kematian. Jika sembuh, ia masih menunjukkan gejala sisa dengan menyerang otak.

Penyakit ini menular melalui gigitan hewan nyamuk. Sebab itu, diimbau untuk setiap lingkungan secara rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk. (*)

Penulis: eurazmy
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved