Kapal Greenpeace Rainbow Warrior Berlabuh di Bali, Kritisi PLTU Celukan Bawang
Ada tiga permasalahan lingkungan yang menjadi perhatian utama untuk perjalanan Rainbow Warrior kali ini.
Penulis: Hisyam Mudin | Editor: Eviera Paramita Sandi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kapal legendaris Greenpeace, Rainbow Warrior, kembali lagi ke perairan Bali setelah terakhir berlabuh lima tahun silam.
Kapal Rainbow Warrior ini bertolak dari pelabuhan Papua sebelum akhirnya berlabuh di Pelabuhan Benoa Bali Cruise Terminal (BCT), Jumat (13/4/2018) kemarin.
Kunjungannya kali ini membawa sejumlah misi terkait isu lingkungan yakni keseimbangan antara alam dengan kehidupan manusia.
Kapten Kapal Rainbow Warrior, Hetti, mengatakan kapal Rainbow Warrior ini kembali lagi ke Indonesia dengan mengusung tajuk 'Jelajah Harmoni Nusantara', setelah kunjungan terakhir pada tahun 2013 lalu.
Kehadiran kapal Rainbow Warrior ini memiliki misi yang lebih besar yakni menyuarakan penyelamatan lingkungan dan meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya hal tersebut.
Sebelum bertolak ke Bali, kapal Rainbow Warrior ini berada di Papua. Selama di Papua para kru kapal melakukan banyak aktivitas, salah satunya mendokumentasikan keindahan hutan di Papua.
Dalam perjalan menuju Bali, kru kapal mendapat kabar ada tumpahan minyak di Teluk Balikpapan yang dampaknya memengaruhi lingkungan masyarakat terutama terhadap biota laut.
"Tumpahan minyak di Teluk Balikpapan tersebut merupakan salah satu contoh kasus kejahatan lingkungan, yang kita semua sebagai manusia bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan lingkungan," ujarnya saat menggelar konferensi pers di atas kapal Rainbow Warrior, Jumat (13/4/2018).
Sebenarnya kapal Rainbow Warrior berusaha untuk singgah di Teluk Balikpapan untuk bisa mendokumentasikan kondisi lingkungan tersebut.
Hanya saja disebabkan waktu yang terbatas, Hetti memutuskan langsung menuju ke Bali.
Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Hindun Mulaika, mengatakan ada tiga permasalahan lingkungan yang menjadi perhatian utama untuk perjalanan Rainbow Warrior kali ini.
Yakni energi, penggunaan plastik yang berujung pada sampah di laut, serta reklamasi di kawasan pesisir.
Ia pun berharap kedatangan kapal Rainbow Warrior ini bisa memperbesar isu lingkungan dan merasionasi konsentrasi untuk keselamatan lingkungan.
Menurutnya jika lingkungan tidak terselamatkan dari kasus apapun maka manusia pun tidak bisa hidup dengan sejahtera.
"Karena begitu alam rusak, yang kita dapatkan hanya bencana. Semoga kehadiran Rainbow Warrior ini bisa menyatukan kita semua dan memperbesar isu lingkungan," ujarnya.
Kampanye Greenpeace selain mendukung gerakan tolak reklamasi, juga mengampanyekan terkait pentingnya Bali untuk memanfaatkan energi terbarukan.
Terkait dengan itu, Greenpeace mengkritisi dibangunnya PLTU Celukan Bawang sebesar 2x330 Mega Watt (MW) yang berlokasi di Buleleng.
Sumber energi yang masih bersumber pada batubara menurutnya akan memperburuk kualitas udara di Bali.
Selain itu mengancam kesehatan masyarakat juga pariwisata di Bali.
"Pembakaran batubara ini menjadi salah satu akibat terbesar dari perubahan iklim. Pembakaran batubara ini akan memberikan polusi-polusi yang sangat berbahaya bagi kesehatan," imbuhnya.
Disebutkan, pembangunan PLTU Celukan Bawang merupakan perencanaan energi yang salah oleh Pemerintahan Provinsi Bali karena akan meracuni keindahan dan keseimbangan alam Pulau Dewata.
Bersama masyarakat, Greenpeace telah melayangkan gugatan agar rencana proyek ini segera dibatalkan.
"PLTU Batubara telah menjadi masa lalu kelam yang ditinggalkan di banyak negara di dunia, dan energi terbarukan seperti tenaga surya telah menjadi sebuah kekuatan ekonomi baru dengan penyerapan tenaga kerja lokal yang besar," jelasnya
Sementara itu, koordinator ForBali, Wayan "Gendo" Suardana, menyatakan kapal Rainbow Warrior merupakan kapal yang menjadi saksi lima tahun rakyat Bali melakukan penolakan reklamasi Teluk Benoa.
"Di kapal ini sebetulnya salah satu pijakan kami pertama. di Teluk Benoa lima tahun yang lalu. saat kami melakukan perlawanan terhadap rencanan reklamasi Teluk Benoa," katanya.
Ia berharap kedatangan kapal ini bisa memantik semangat masyarakat Bali khususnya, untuk terus berjuang menolak reklamasi.
"Selain itu juga membuat dunia internasional bisa melihat, bahwa investasi yang dahsyat yang di-backup sedemikian rupa oleh kekuasaan itu tidak serta merta memainkan agendanya kalau rakyat dan dunia internasional bersatu padu untuk melawan," imbuhnya.
Ia mengatakan kampanye-kampanye energi yang bersih ini penting untuk disampaikan dan diperhatikan.
Karena menurutnya ada upaya-upaya untuk mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) yang tidak lagi memperhatikan lingkungan.
Seperti pembangunan PLTU Batubara di Bali utara.
Menurutnya, bukan hanya reklamsi Teluk Benoa saja, tapi isu lingkungan lainnya, termasuk juga upaya-upaya pelebaran seperti reklamsi Pelabuhan Benoa dan Bandara Gusti Ngurah Rai.
Menurutnya, hal ini akan berbahaya untuk Bali.
"Saya berbicara Bali, tapi sebetulnya mewakili bagaimana kondisi pembangunan di Indonesia yang semuanya tidak memperhatikan keberlanjutan lingkungan hidup," ujarnya.
Gendo berharap Greenpeace bersama Rainbow Warrior terus mengkampanyekan isu-isu lingkungan hidup.
"Greenpeace bersama Rainbow Warrior akan terus menjadi kawan kita bersama sejak perjuangan lima tahun yang lalu dan kedepannya untuk terus memperjuangkan kepentingan lingkungan hidup," imbuhnya.
Kapal Greenpeace Rainbow Warrior dengan panjang 63 meter dan lebar 11 meter serta ketinggian 54 meter ini, memiliki 17 kru kapal, termasuk kapten kapal.
Selama dalam perjalanan, kapal ini lebih banyak mengandalkan angin yang dilaporkan sampai 80 persen.
Sisanya, 20 persen menggunakan tenaga mesin.
Rainbow Warrior akan berlabuh selama empat hari di Bali, terhitung sejak 13 April hingga 16 April 2018 mendatang. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/greenpeace_20180414_104342.jpg)