Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Liputan Khusus

Nasib Trans Sarbagita Terancam Mati Perlahan, Dukungan Dana Operasional Pemda Makin Merosot

Hampir 8 tahun beroperasi di Bali, angkutan Trans Sarbagita bukan kian berkembang, malah makin terpuruk.

Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Ady Sucipto

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Hampir 8 tahun beroperasi di Bali, angkutan Trans Sarbagita bukan kian berkembang, malah makin terpuruk.

Trans Sarbagita yang di awal diluncurkan pemerintah bertujuan untuk mengurangi kemacetan di kawasan ramai  Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan ini, sudah tidak mampu jadi alat transportasi alternatif apalagi transportasi utama.

Penumpang pun makin merosot tajam, sehingga kini tidak jelas kehadiran Trans Sarbagita itu untuk tujuan apa dan siapa.

Tidak adanya tekad kuat dari pemerintah daerah baik provinsi maupun kota/kabupaten untuk menjadikan Trans Sarbagita sebagai alat transportasi massal di Bali, serta lemahnya sinergi kebijakan transportasi antara provinsi dengan kabupaten/kota tampaknya menjadi penyebab utama ketidakjelasan nasib Trans Sarbagita.

Menurut General Maneger (GM) Perum Damri cabang Denpasar, I Made Suma Artika, tiadanya tekad kuat untuk menjadikan Trans Sarbagita sebagai transportasi massal tercermin dari makin merosotnya dukungan anggaran dari pemerintah daerah.

“Satu-satunya yang menyebabkan program Trans Sarbagita tidak berkembang adalah karena tidak adanya dukungan dana operasional dari Pemprov Bali,” kata I Made Suma Artika saat ditemui Tribun Bali pekan lalu.

Perum Damri cabang Denpasar merupakan lembaga yang selama ini bertugas mengoperasikan Trans Sarbagita

Dijelaskan Suma Artika, pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sudah sempat memberikan bus tambahan sebanyak 30 unit berkapasitas 55 tempat duduk pada akhir 2014.

Namun, karena tidak adanya dukungan dana operasional dari Pemprov Bali, dan alasan bahwa di Bali tidak cocok dioperasikan bus besar, maka setengah dari jumlah bus tersebut akhirnya dikembalikan lagi ke pusat.

"Sebenarnya 30 bus itu bisa buat memberikan pelayanan di 5 koridor lagi yang belum terwujud. Tapi tidak ada anggaran operasional, kan tidak mungkin kami tangani sendiri," kata Suma Artika.

Pada tahun 2014 itu, total bus Trans Sarbagita yang ada di Bali sebanyak 55 unit. Sebanyak 25 bus yang juga bantuan dari pemerintah pusat sudah beroperasi di Koridor 1 dan 2. Sedangkan 30 bus lainnya belum dioperasikan, karena baru datang.

Hasil kesepakatan waktu itu, akhirnya 15 dari 30 bus yang datang 2014 dari pusat digunakan untuk mengisi Koridor 3 yakni dari Pesiapan sampai Pantai Lebih dan sebaliknya. Sisanya 15 bus lagi dikembalikan ke pusat.

Dana operasional yang dibantu pusat cuma selama sebulan untuk 15 bus di Koridor 3 itu. Lewat sebulan, semestinya dukungan biaya operasional diserahkan ke Pemprov Bali. Karena tak ada dukungan biaya operasional dari pemprov, 15 bus di Koridor 3 itu pun tak bisa jalan dan akhirnya bus mangkrak.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Bali, I Gusti Agung Ngurah Sudarsana juga mengatakan hal serupa.

Ia menyebut sebab utama Trans Sarbagita mati suri karena program unggulan Pemprov Bali ini belum mampu menjangkau seluruh koridor yang direncanakan.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved