Terkejut Harga Bunga Pacah Tembus Rp 60 Ribu Jelang Hari Raya Galungan, Sudarmi: Buikk
"Pacahnya 60 ribu per kilo," jawab pedagang tersebut datar. "Buikkk," Sudarmi terkejut dan mulutnya agak terbuka mendengar jawaban pedagang tersebut.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Ady Sucipto
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - "Berapa harga bunga pacahnya bu?" tanya Nyoman Sudarmi kepada seorang penjual bunga pacah di Pasar Ketapian, Jalan Pucuk, Denpasar, Senin (28/5) petang.
"Pacahnya 60 ribu per kilo," jawab pedagang tersebut datar. "Buikkk," Sudarmi terkejut dan mulutnya agak terbuka mendengar jawaban pedagang tersebut.
"Ia Galungan semuanya naik," kata pedagang itu merespon keterkejutan Sudarmi, disaksikan sejumlah pembeli lainnya.
Sudarmi mencoba menawar dengan harga Rp 50 ribu, namun pedagang itu mengatakan bahwa harga pokoknya saja Rp 55 ribu per kilo.
Akhirnya Sudarmi menyerah dan membeli seperempat kilo seharga Rp 15 ribu. Meski mahal ia tetap membeli karena kebutuhan untuk Hari Raya Galungan pada Rabu (30/5) besok.
Pada Senin kemarin atau Penyajaan Galungan, para pembeli silih berganti datang ke Pasar Ketapian untuk membeli sarana upakara Galungan. Salah satunya adalah membeli bunga pacah.
Menurut seorang pedagang, Wayan Suastini, harga bunga pacah terus mengalami peningkatan. Dan, sejak kemarin pagi tembus Rp 60 ribu perkilo.
Sehari sebelumnya ia menjual dengan harga Rp 50 ribu. "Naik dari tadi pagi. Kemarin cuma 50 ribu," kata Suastini sambil melayani pembeli.
Padahal hari biasa harga bunga pacah di Denpasar cuma Rp 10 ribu per kilo. Itu artinya, naik hampir 500 persen!
Selain bunga pacah, bunga mitir juga mengalami kenaikan dari Rp 24 ribu sehari sebelumnya naik menjadi Rp 35 ribu.
"Kalau hari biasa paling 12 ribu harga mitirnya," kata Suastini, perempuan asli Klungkung ini.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh pedagang lain, Luh Ariawan. Ia membeli mengaku bunga pacah dengan harga pokok Rp 55 ribu dan dijual seharga Rp 60 ribu.
"Harga pokoknya saja 55 ribu," kata Ariawan yang berasal dari Tianyar, Karangasem ini.
Sedangkan bunga mitir yang sehari sebelumnya ia jual dengan harga Rp 25 ribu kini dijual dengan harga Rp 40 ribu.
Selain menjual pacah dan mitir ia juga menjual lamak dengan harga Rp 4 ribu perbiji, tebu Rp 3 ribu perpotong, dan bunga ratna Rp 3 ribu perikat.
Selain di Pasar Ketapian, peningkatan harga juga terjadi di Pasar Kreneng. Seorang pedagang, Gede Natih, mengungkapkan harga bunga mitir juga naik menjadi Rp 40 ribu.
"Naik hampir empat kali lipat dari biasanya," katanya.
Selain itu harga ceper juga naik. Satu ikat ceper slepan yang berisi 50 biji seharga Rp 18 ribu. Padahal hari biasa hanya Rp 8 ribu.
Sedangkan ceper busung seharga Rp 20 ribu dengan harga pada saat hari biasa Rp 10 ribu.
Sementara harga sepasang gantungan Rp 3 ribu per pasang dan sucian Rp 5 ribu untuk tiga tanding (biji).
Pantauan Tribun Bali di Pasar Kidul Bangli, Senin (28/5), sejumlah kebutuhan pokok juga mengalami peningkatan harga cukup tajam. Mulai dari 50 hingga 100 persen, bahkan lebih dari 1000 persen.
Seperti halnya bunga pacah, sarana persembahyangan ini mengalami peningkatan cukup tinggi, yakni mencapai 1200 persen dari harga normal. Hal tersebut diungkapkan seorang pedagang bernama Jro Sudami. Dia mengatakan jika kenaikan harga bunga telah dirasakan sejak memasuki H-5 Hari Raya Galungan.
Peningkatan ini terjadi secara bertahap. Seperti halnya bunga pacah, kata dia, sejak beberapa hari terakhir harganya terus meningkat. Mulai dari Rp 20 ribu per kilo, Rp 40 ribu per kilo, dan kini tembus Rp 60 ribu per kilo. “Normalnya harga bunga pacah hanya Rp 5 ribu per kilo,” sebutnya.
Jenis bunga gumitir dan bunga kembang seribu juga mengalami kenaikan harga. Normalnya, untuk bunga gumitir dijual seharga Rp 10 ribu per kilo, namun pada H-2 Galungan ini menjadi Rp 30 ribu per kilo.
Sedangkan harga bunga kembang seribu dari semula Rp 5 ribu per ikat, kini menjadi Rp 20 ribu per ikat.
“Peningkatan harga ini lantaran tingginya permintaan jelang Galungan, namun tidak sebanding dengan pasokan yang tersedia,” ujarnya memberi alasan.
Selain bunga, harga buah-buahan juga mengalami kenaikan serupa. Seperti harga sawo yang semula hanya Rp 15 ribu per kilo, kini menjadi Rp 25 ribu per kilo.
Apel manalagi, semula Rp 20 ribu per kilo, menjadi Rp 25 ribu per kilo. Pear dari harga Rp 18 ribu, menjadi 22 ribu per kilo. Mangga madu, yang sebelumnya seharga Rp 10 ribu, kini menjadi Rp 20 ribu per kilo. “Semuanya naik sekarang,” ucap seorang pembeli bernama Luh Suryani.
Daging Babi
Harga daging babi juga terpantau meningkat. Seperti yang terjadi di Klungkung.
Berdasarkan data Bidang Produksi Peternakan di Dinas Pertanian Klungkung, per Senin (28/5), harga daging babi di Klungkung pada mencapai Rp 65 ribu per kilogram. Harga tersebut meningkat dibandingkan harga sehari sebelumnya, yaitu Rp 60 ribu.
Kenaikan harga ini pun diprediksi akan terus meningkat hingga Penampahan Galungan, Selasa (29/5) hari ini.
"Harga babi saat hidup terpantau Rp 30 ribu sampai Rp 34 ribu per kilo. Sementara, harga dagingnya sekitar Rp 60 ribuan per kilogram," jelas Kabid Produksi Peternakan Dinas Pertanian Klungkung, I Nyoman Ladra, kemarin.
Kenaikan harga tersebut masih fluktuatif. Biasanya hal ini disebabkan karena tingginya permintaan daging babi oleh masyarakat saat menjelang Hari Raya Galungan.
Berdasarkan data Bidang Peternakan di Dinas Pertanian Klungkung, ketersediaan daging babi di Klungkung per Senin (28/5) sekitar 270.500 kg. Sedangkan kebutuhan maksimal daging babi di Klungkung saat Penampahan Galungan diperkirakan sekitar 220.000 kg.
"Jadi untuk Penampahan Galungan, stok daging babi kita aman dan dapat menutupi permintaan masyarakat Klungkung," kata Ladra. (sup/mer/mit)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/bunga-pacah_20180529_100002.jpg)