Simpang Ring Banjar
Wujud Krama Sala Sucikan Diri, Tradisi Mesiram Toya Daha Lan Magoba-Gobagan
Ada cara unik yang dilakukan krama Desa Pakraman Sala dalam menyambut hari Raya Galungan
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Irma Budiarti
Tradisi ini dimulai dengan lempar bunga, kemudian dilanjutkan dengan saling melempar/menyiram air menggunakan batok kelapa yang telah dibawa masing-masing krama.
Kata Kayana, sama dengan Mesiram Toya, tradisi magoba-gobagan juga bermakna untuk saling menebarkan kebaikan melalui perilaku, maupun tutur kata.
“Dipilihnya para remaja, karena dalam tradisi magoba-gobagan ini ada unsur suka cita. Terlebih di era saat ini, meski semakin canggih dan komunikasi semakin mudah, untuk saling berkomunikasi justru tergolong kurang. Sehingga dengan tradisi ini, diharapkan mampu memupuk kembali rasa solidaritas dan silaturahmi di antara truna-truni,” jelasnya.
Satelah seluruh prosesi selesai, sambung Kayana, sebanyak 108 wanita yang berasal dari KK arepan pulang kerumah masing-masing, untuk mengambil sebuah periuk (jun).
Dalam periuk tersebut nantinya diisi air yang disebut toya anyar, berasal dari mata air Tirta Utama, Pura Taman Pecampuhan.
“Toya anyar ini digunakan sebagai tirta dalam persembahyangan dipekarangan masing-masing. Tirta ini juga bisa digunakan untuk membasuh wajah, maupun minum bagi krama yang berhalangan hadir lantaran sakit,” ucapnya.
“Hubungan antara kedua tradisi tersebut adalah untuk mensucikan diri sebelum kontak dengan Tuhan yang Maha Suci. Tanpa dilandasi dengan penyucian diri, maka makna dari hari Raya Galungan akan sia-sia,” tuturnya.
Melukat Tanpa Larangan bagi yang Berhalangan
Berbeda dengan penglukatan lain, melukat di Pengelukatan Tirta Pecampuhan, Pura Taman Pecampuhan Desa Pakraman Sala, justru tidak dibatasi apapun, seperti datang bulan, maupun cuntaka.
Bendesa Adat Desa Pakraman Sala, I Ketut Kayana mengatakan, walaupun tidak ada larangan, bukan berarti tidak ada batasan.
Bagi yang tengah berhalangan, pemedek yang hendak melukat hanya diperkenankan sampai pada tirta bulakan dan tirta taman saja.
Prosesi melukat, lanjut Kayana, khususnya bagi pemedek yang tidak berhalangan, dimulai dari matur piuning, memohon restu pada Tuhan, agar prosesi pengelukatan berjalan lancar, serta diberikan restu oleh Tuhan.
Selanjutnya dilanjutkan dengan prosesi mesiram di pecampuhan, yang mirip dengan pertigaan jalan.
"Pecampuhan ini diyakini sebagai sebuah tempat yang sangat suci, karena pertemuan dari dua buah sungai. Diyakini pula, pada pecampuhan tersebut sebagai tempat berkumpulnya para dewa atau yang biasa disebut 'dewa prayag'," terangnya.
Setelah mesiram di pecampuhan, pemedek lanjut ke pesiraman dedari.
Dimana tempat ini terdapat sebuah air terjun (grojogan) yang indah. Kata Kayana, sebagaimana dedari (bidadari), secara simbolis digambarkan memiliki pribadi yang indah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/melukat_20180602_135407.jpg)