Ngaku Lihat Sosok Perempuan Yang Tertutup Pasir, Pria Ini Nekat Hancurkan Dua Pelinggih
Betapa terkejutnya istri Made Arnama, ketika melihat Abdul Haq sedang merusaki pelinggih milik Gede Sura
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Aloisius H Manggol
TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA- Ada-ada saja ulah yang dilakukan oleh Abdul Haq (23).
Pria asal Probolinggo, Jawa Timur ini nekat menghancurkan dua pelinggih penunggun karang (Jero Gede, red) milik warga di RT Mumbul, Kelurahan Banjar Jawa, Kecamatan/Kabupaten Buleleng pada Selasa (5/6/2018).
Belum diketahui secara pasti alasan mengapa dirinya nekat menghancurkan tempat ibadah tersebut.
Namun yang jelas Abdul Haq kini sudah diamankan di Mapolres Buleleng.
Menurut informasi, pria yang berstatus sebagai mahasiswa di salah satu universitas di Singaraja ini menghancurkan dua pelinggih penunggun karang milik warga pada waktu dinihari.
Pelinggih yang dihancurkan adalah milik Gede Sura Wiratama yang dibangun tepat di depan rukonya, serta milik Komang Remida yang dibangun tepat di kontrakan tempat Abdul Haq biasa menginap.
Gede Sura mengatakan, ruko miliknya itu memang dalam keadaan kosong.
Sehingga saat Abdul Haq menghancurkan pelinggih miliknya, tak satu pun ada orang yang tahu.
Ia pun mendegar kejadian ini dari para tetangganya.
Dijelaskan Gede Sura, Abdul Haq memang kerap terlihat di sekitar RT Mumbul.
Ia sering menginap di kontrakan milik Komang Remida, yang di sewa oleh teman satu kampusnya.
"Dia tidak tinggal di sini. Dia hanya datang dan main di kontrakan temannya itu. Waktu diinterogasi, dia mengaku melihat sesuatu di Jero Gede ini. Dia mencoba untuk mengeluarkan sesuatu yang dia lihat itu, makanya langsung dirobohkan pelinggih saya ini. Pelinggih di kontrakan temannya itu juga dirusak, atapnya di cabut," jelas Gede Sura.
Sebelum di serahkan ke pihak kepolisian, Gede Sura mengaku juga sempat menginterogasi Abdul Haq.
Namun, pertanyaan yang dilontarkan dijawab dengan bahasa daerah, yang tidak dimengerti oleh Gede Sura.
"Jawabannya acuh seperti orang gila. Kadang pakai bahasa tempat asalnya, kami tidak mengerti. Yang menyerahkan dia ke polisi itu adalah warga, takut diamuk massa, makanya diserahkan saja ke polisi," ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pelinggih_20180605_182049.jpg)