Jokowi: Hanya Ada Satu Pilihan, Jadi Pemenang atau Ditinggal Negara Lain
Rektor ISI Denpasar mengatakan, kehadiran Presiden Jokowi ke ISI Denpasar untuk mengisi kuliah umum jadi kedua kalinya dalam sejarah Indonesia
Penulis: Putu Supartika | Editor: Irma Budiarti
Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha mengatakan, kehadiran Presiden Jokowi ke ISI Denpasar untuk mengisi kuliah umum jadi kedua kalinya dalam sejarah Bangsa Indonesia, seorang presiden ke kampus seni.
"Ini adalah catatan presiden datang ke kampus seni baru terjadi dua kali dalam sepanjang sejarah Indonesia. Pertama saat presiden Soekarna ke Akademi Seni Indonesia tahun 1955," kata Sugiarta, Sabtu (23/6/2018).
Hal tersebut pun mendapat tanggapan positif dari Jokowi.
"Seperti yang dikatakan Pak Rektor tadi, saya adalah presiden yang kedua, Presiden RI yang kebetulan saya dari Jurusan Teknologi Kehutanan diundang untuk memberikan kuliah di ISI," kata Jokowi.
Sontak terdengar riuh tepuk tangan dari para peserta kuliah umum.
Beberapa tahun terakhir, Jokowi berkeliling kampus ke kampus untuk mengajak kaum terdidik mempersiapkan diri menghadapai dunia yang berubah begitu cepat.
Ia menjelaskan, 3 tahun terakhir ini, pemerintah menggenjot pembangunan infrastruktur dari Trans Papua, Trans Sumatra, Trans Kalimantan, tol laut, tol darat, dan jalur kereta api.
Namun, ia meminta agar hal itu tidak dimaknai sebagai pembangunan infrastruktur fisik semata, atau hanya dimaknai untuk pembangunan ekonomi semata, karena ia merasa masih banyak yang keliru memaknai.
"Pembangunan infrastruktur fisik tersebut adalah bagian penting dari pembangunan infrastruktur budaya. Yaitu infrastruktur yang menyatukan 714 suku yang ada di bumi nusantara ini," katanya yang disambut tepuk tangan peserta.
Memajukan kebudayaan dan kesenian di masyarakat akan memajukan keadilan bagi masyarakat.
Pembangunan infrastruktur adalah satu langkah strategis menghadapi dunia yang sedang berubah sangat cepat dengan kompetisi ketat.
"Dalam hal ini, pilihannya hanya satu, akan menjadi pemenang atau rela ditinggal negara lain," ungkapnya.
Nantinya pembangunan infrastruktur ini akan disambung pula dengan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).
"Guna membangun SDM unggul kompetitif untuk menguasai, mengendalikan, dan memanfaatkan teknologi. Revolusi industri 4.0 yang sedang masuk harus kita hadapi dan antisipasi dengan serius," lanjutnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/jokowi-saat-akan-meninggalkan-kampus-isi-denpasar_20180623_131153.jpg)