Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Nandi Mengaku Tanam Ganja untuk Obati Sesak Napas, Suarjaya: Itu Terapi Akal-akalan Saja 

dr Ketut Suarjaya, menegaskan bahwa tidak benar ganja memiliki manfaat bagi kesehatan

Tayang:
Penulis: eurazmy | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/Rizal Fanany
Kapolresta Denpasar Kombespol Hadi Purnomo menunjukkan barang bukti berupa pohon ganja dalam jumpa pers atas pengungkapan kasus penanaman ganja, Selasa (10/7/2018), di Markas Polresta Denpasar. Tersangka pelaku penanaman ganja beralasan menanam pohon ganja untuk dipakai sendiri. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tersangka TA Nandi yang ditangkap polisi karena menanam pohon ganja, mengatakan bahwa ganja itu dikonsumsinya untuk mengobati alergi sesak napas yang diidapnya.

Betulkah mengonsumsi ganja bisa mengobati sesak napas?

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali, dr Ketut Suarjaya, menegaskan bahwa tidak benar ganja memiliki manfaat bagi kesehatan, apalagi untuk mengobati alergi sesak napas.

Diungkapkan Suarjaya, efek zat yang dikandung ganja bagi sistem pernapasan manusia justru negatif, yakni bersifat menekan rongga-rongga pernapasan.

"Jadi tidak benar itu (ganja) untuk mengobati sesak napas. Itu hanya alasan pembelaan dia saja. Penggunaan zat psikotropika untuk terapi medis hanya akal-akalan saja. Malah mengonsumsi zat psikotropika justru bisa bikin sesak napas, karena efeknya bisa menekan rongga pernapasan kita," ungkap Ketut Suarjaya, Selasa (10/7/2018), ketika dimintai tanggapannya mengenai pernyataan bahwa ganja bisa menjadi obat.

Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan, penggunaan ganja akan memberikan efek negatif pada tubuh seperti pusing, penyakit pada paru, sesak napas, mengurangi daya konsentrasi, mengganggu kesehatan mental, perdarahan, tekanan darah naik, mata merah, gangguan sistem pencernaan, mengganggu kesuburan, dan membahayakan janin dan bayi.

Oleh sebab itu, Ketut Suarjaya mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak oleh isu bahwa ganja bisa digunakan sebagai terapi medis.

Kalau terlanjur, ia meminta agar penggunanya berhenti mengonsumsinya, karena memang tidak terbukti ada efek positif ganja bagi kesehatan. 

Ia menghimbau orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap lingkup pergaulan anak-anaknya.

"Apapun alasannya, mengonsumsi narkotika tidak dibenarkan dan tidak ada manfaatnya dari sisi kesehatan. Jangan terbujuk oleh klaim tentang manfaat narkoba,” Ketut Suarjaya menandaskan.(*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved