Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Level 21 Mall Alami Penurunan Kunjungan Pasca Gempa Beberapa Waktu Lalu

Pasca gempa dengan magnitudo 7 skala richter (SR), beberapa mall di Denpasar merasakan imbas sepinya pengunjung

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Suasana saat Zenzen Guisi Halmis, GM Level 21 Denpasar dan staf mengecek kondisi gedung pasca diguncang gempa 7 SR dan gempa susulan dengan Magnitudo 6,2 SR yang berpusat di Lombok, Minggu (12/8/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pasca gempa dengan magnitudo 7 skala richter (SR), beberapa mall di Denpasar merasakan imbas sepinya pengunjung.

Salah satunya adalah Mall Level 21 Denpasar.

“Kalau di Level 21 sendiri syukurnya gedung kami aman pasca gempa kemarin, dan yang kedua kali juga aman,” jelas Zenzen Guisi Halmis, GM Level 21 Denpasar, kepada Tribun Bali, Minggu (12/8/2018).

Pihaknya pun mengecek, tidak ada kecelakaan saat gempa dan semua konsumen dalam kondisi aman walau sempat terjadi kepanikan.

“Pasca gempa ini, apalagi antisipasi gempa susulan, maka strategi kami semua managemen, dan operasional team ada penanggulangan gempa. Sehingga tidak membuat panik konsumen. Sehingga ketika gempa datang lagi, semua telah tahu apa yang harus dilakukan. Sebab kadang kalau orang panik bisa lupa jalur evakuasinya di mana,” katanya.

Ia pun berkeliling bersama staf, mengecek gedung, dan dipastikan masih dalam kondisi aman serta struktur masih kuat.

Walau demikian, ia mengakui terjadi penurunan kunjungan sehari pasca gempa, namun tidak besar dan tidak sampai 5 persen.

Per hari kunjungan ke Level 21 mencapai 20 ribu saat weekday, sementara weekend bisa 25 ribu-30 ribu.

“Saya rasa semua mall turun, karena kebetulan saya di asosiasi dan memang ada penurunan dan tidak signifikan,” katanya.

Terlihat eskalator mall ada yang dimatikan dan dihidupkan, hal ini dilakukan sebagai antisipasi gempa susulan terjadi.

“Eskalator dan lift dimatikan untuk keamanan. Karena kalau dinyalakan secara safety sudah salah,” ujarnya.

Tujuannya agar konsumen tidak terjebak sehingga tidak terjadi hal buruk saat ada bencana.

“Kami matikan 15 menit dulu, setelah 15 menit sudah aman kami nyalakan kembali, dan kami minta konsumen balik lagi,” katanya.

Baginya, kecelakaan kerap terjadi karena kepanikan bukan karena gempanya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved