Simpang Ring Banjar

Warga Kerap Melukat di Pura Tirta Sudhamala, Konon Tukad Jadi Tempat Pembuangan Mayat Saat Perang

Pura yang terletak di Desa Pakraman Banyuasri ini sering didatangi oleh masyarakat untuk melakukan ritual pelukatan

Warga Kerap Melukat di Pura Tirta Sudhamala, Konon Tukad Jadi Tempat Pembuangan Mayat Saat Perang
Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Pura Tirta Sudhamala. 

Masyarakat yang menggunakan sungai itu untuk keperluan sehari-hari serta memberi minum hewan ternaknya menjadi sakit.

Ada 16 kepala keluarga yang lantas memohon secara niskala agar air di tukad tersebut tidak tercemar lagi.

Saat memohon itu lah, konon terdengar suara ledakan yang sangat keras.

Penasaran, masyarakat pun mencoba mencari sumber ledakan tersebut.

Terang saja, saat sumber ledakan ditemukan, terdapat semburan air yang sangat keras keluar dari dalam tanah.

Air itu dianggap oleh warga sekitar sebagai air suci.

Sehingga masyarakat pun membangun sebuah pura di sumber ledakan tersebut yang kini dikenal dengan nama Pura Tirta Sudhamala, agar masyarakat setempat dapat melakukan ritual pelukatan.

"Saat masyarakat menemukan sumber ledakan tersebut terjadilah orang kesurupan. Ada bisikan, diperintahkan masyakarat agar air yang dianggap suci itu dibawa dan ditebarkan di hulu sungai. Saat itulah air tidak beracun lagi," tutur
Nyoman Westha didampingi prajuru Desa Pakraman Banyuasri.

Memasuki abad ke 16, di mana saat itu Buleleng sudah dipimpin oleh seorang raja bernama I Gusti Ngurah Panji Sakti, masyarakat di Desa Banyumala tiba-tiba ditimpa masalah dalam hal melakukan upacara pemakaman.

16 KK yang dulu pertama kali tinggal di wilayah tersebut, jika hendak melakukan pemakaman, harus menyeberangi bantaran sungai (tukad) Banyumala.

Halaman
1234
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved