Dharma Wacana

Adat Kerdilkan Agama Hindu

Desa Pakraman selama ini dinilai sebagai benteng agama Hindu. Namun aturan yang diberlakukan kepada masyarakatnya, terkadang kaku.

Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ady Sucipto

TRIBUN-BALI.COM, -- Desa Pakraman selama ini dinilai sebagai benteng agama Hindu. Namun aturan yang diberlakukan kepada masyarakatnya, terkadang kaku.

Bahkan, ada suatu ketika hukumnya, memberikan sanksi kasepekang atau tidak boleh sembahyang di Pura Kahyangan Tiga, Desa Pakraman setempat, dan juga tidak mendapatkan setra.

Padahal di dalam ajaran agama Hindu, orang yang bersalah tidak harus dimusnahkan. Namun, dibina supaya menjadi orang berguna.

Aktivitas adat yang relatif kaku, kerap menjadi penghalang warganya berkembang. Terbukti, sangat sedikit umat Hindu di Bali yang memegang peran strategis dalam bidang pekerjaan.

Tidak jarang juga perusahaan membuat lowongan pekerjaan, yang mendiskriminasi umat Hindu di Bali.

Dengan kondisi demikian, apakah desa pakraman yang diharapkan sebagai benteng agama, justru mengkerdilkan agama Hindu?

Berbicara desa pakraman, kita harus kembali pada sejarahnya. Desa pakraman dibentuk Mpu Kuturan. Apa yang diinginkan beliau, pertama, karena pada saat itu terjadi ‘lalu lintas’ yang begitu sibuk di wilayah sekte di Bali.

Saya tidak pernah melihat mazab-mazab ini bertempur satu sama lain.

Sebab ada yang mengatakan, pertempuran antar sekte ini membuat Bali menjadi rawan, maka untuk meredam, mereka dimasukkan ke dalam suatu wadah yang disebut desa pakraman. Namun untuk hal ini, kami belum menemukan bukti terkait pertempuran itu.

Tetapi yang jelas, kelahiran desa pakraman ini adalah agar, spirit-spirit agama Hindu yang tertuang di dalam Weda, dan nilai agama Hindu dalam Upanisad itu dilembagakan.

Ketika kita bicara masalah melembaga, berarti butuh lembaga. Saat ia sudah melembaga, dia memiliki semacam visi dan misi.

Visinya, jelas mengejawantahkan Weda. Misinya, adalah  sebuah ideologi yang disebut Siwa Sidhanta, dengan menempatkan Kahyangan Tiga sembagai sentrum.

Kahyangan Tiga ada bukan hanya sebagai tempat penyembahan terhadap Sang Hyang Tri Murti, Brahma, Wisnu dan Siwa.

Namun tempat manusia melakukan pengembangan diri, dengan memuja Saraswati sebagai Saktinya Brahma.

Aspek dia men-safety kehidupannya, dengan memuja Sri Laksmi, dan bagaimana dia harus mendaur hal-hal yang tidak relevan lagi, itu kita harus memuja Siwa Ludra.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved