Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Di Luar Negeri Tak Boleh Masuk Tempat Suci, di Bali Turis Malah Selfie dengan Rangda

Sudiana mengungkap telah terjadi 5 kasus wisatawan naik ke pelinggih yang terungkap ke permukaan.

Penulis: Putu Supartika | Editor: Eviera Paramita Sandi
Tribun Bali/Rizal Fanany
Ilustrasi - Pura Besakih di Karangasem,Bali, Jumat (22/9/2017) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Bule yang naik ke Pelinggih di Bali disebut ngeletehin pura dan menghina Umat Hindu.

Hal itu disampaikan oleh Ketua PHDI Bali, Prof I Gusti Ngurah Sudiana saat audiensi dengan Komisi IV DPRD Bali di Kantor DPRD Bali, Senin (17/9/2018).

Sudiana mengungkap telah terjadi 5 kasus wisatawan naik ke pelinggih yang terungkap ke permukaan.

Tahun 2001 pernah kejadian di Uluwatu turis main gitar di Meru, di Lembongan turis duduk di Bale Pengaruman seperti Dewa-dewi, di Pura Gelap, di Mangening dan terakhir terjadi di Pura Batukaru.

"Turis sudah seperti Betara. Berubah wajah Betara menjadi bule," kata Sudiana.

Itu baru lima kasus dan menurutnya mungkin saja masih banyak ada kejadian serupa yang tidak terungkap karena pura banyak tidak terjaga dan tidak tertutup di Bali

"Kalau di Besakih hampir semua tidak tertutup dan gampang masuk sampai ke jeroan yang dikeramatkan. Kalau kita terus biarkan seperti itu apakah agama Hindu masih metaksu?" tegasnya.

PHDI sesuai keputusan bhisama 1983 sudah memeberikan tata cara saat memasuki pura yang diawali dengan menyucikan diri, pakai pakaian adat dan semua syaratnya jelas.

Karena pura dijadikan objek wisata, daya tarik, dan tujuan wisatalah yang menyebabkan turis bisa leluasa masuk. 

Berkaitan dengan itu Sudiana mengatakan perlu dibuatkan Perda yang berkaitan dengan tata cara masuk pura dan Perda larangan sampai di mana boleh ketika wisatawan masuk ke pura.

"Kalau di Jagatnata dari 1996 saya sudah berkelahi dengan guide karena masuk ke dalam dan sekarang sudah ditata hanya sampai sampai jabaan," cerita Sudiana.

Ia menambahkan tidak ada yang bisa menjamin bahwa turis yang masuk dalam keadaan tidak cuntaka.

"Kita tak tahu turis itu datang bulan atau tidak. Lontar Purwa Desa mengatakan seluruh pedagingan akan pudar kesuciannya apabila ada orang datang bulan masuk pura sehingga tidak boleh datang bulan masuk pura," kata Sudiana.

Ia juga meninta jeroan pura dikunci paling tidak di Madya Mandala digembok dan diisi  nomor HP pemangku agar bisa menghubungi pemangku saat akan sembahyang.

"Turis jangan masuk ke jeroan pura. Di luar negeri jangankan masuk, motret aja tidak dikasi. Di sini pretimanya disuruh motret, selfi dengan rangda. Tidak salah sebenarnya, tapi kebablasan," imbuh Sudiana. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved