Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Mengenal Lebih Dekat Ida Kanjeng, Pendeta yang Pimpin Pernikahan Hindu Bali di Swiss

Romo Ida Sri Bhagawan Kanjeng Panembahan Jawi Acharya Daksa Manuaba dari Griya Agung Panembahan, Ubud

Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Irma Budiarti
Istimewa/Kolase
Romo Ida Sri Bhagawan Kanjeng Panembahan Jawi Acharya Daksa Manuaba (kiri) dan Warga Swiss, Claudio dan Margareta saat melakukan serangkaian prosesi pernikahan ala Bali di sebuah perbukitan, di Unterwasse, Swiss, Jumat (12/10/2018), (kanan). 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Romo Ida Sri Bhagawan Kanjeng Panembahan Jawi Acharya Daksa Manuaba dari Griya Agung Panembahan, Ubud, Gianyar merupakan pendeta yang memimpin ritual pernikahan ala Hindu Bali di Unterwasse, Swiss, Jumat (12/10/2018).

Mungkin, sebagian masyarakat Hindu di Bali, merasa asing dengan gelar kesulinggihan, pendeta yang karib disapa Ida Kanjeng ini, terutama dalam istilah ‘Kanjeng’ yang identik dengan gelar yang diberikan raja keraton untuk bangsawan Jawa.

Lalu, kenapa Ida bisa memiliki gelar demikian dalam nama kesulinggihannya?

Kepada Tribun Bali, Senin (15/10/2018), Ida Kanjeng mengatakan, dirinya memang bukan keturunan Bali.

Namun, ia merupakan Duta Besar Keraton Surakarta zaman Sinuhun Pakubuwono XII, yang dikirim ke Bali untuk membantu kaum cendikiawan dalam menegakkan dharma, sesuai ajaran agama Hindu, yakni cinta kasih.

Sebelum menjadi sulinggih di Bali, gelar beliau tidak hanya sebatas ‘Kanjeng’, tetapi ‘Kanjeng Prabu’ atau pangeran.

Saat ini, Ida Kanjeng juga merupakan anggota Sabha Pandita Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat.

Selain itu, beliau juga aktif dalam menyebarkan ajaran Hindu, yang penuh cinta kasih pada masyarakat.

Hal ini biasanya dilakukan di pedepokannya, yakni Pasraman Ageng Daya Putih Panembahan Jawi, di Desa Pering, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar.

Aktivitas yang dilakukan di pasraman tersebut, mulai dari pemusatan pikiran melalui yoga, hingga memberikan ceramah tentang Dharma (kebaikan).

Masyarakat yang datang untuk mencari ilmu ketenangan bhatin pada Ida Kanjeng, tak hanya umat Hindu nusantara.

Namun tak sedikit juga, berasal dari luar negeri, khususnya Eropa.

Disinggung terkait masyarakat Bali yang masih awam terhadap gelar sulinggihnya, Ida Kanjeng memaklumi.

Namun berhadasarkan hal ini, pihaknya berharap pengetahuan masyarakat terkait sulinggih bisa lebih luas lagi.

“Antara pendeta Bali dan pendeta Jawa itu sama, karena semuanya ada dalam Parisadha Hindu Dharma. Kita sama-sama menyebarkan kedamaian. Ajaran Hindu itu harus disebarkan secara luas, karena konsep ajarannya yang mulia. Yakni cinta kasih, tidak hanya sesama manusia, tetapi juga semua mahkluk ciptaan-Nya,” ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved