Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Polemik Wisatawan China di Bali : Butuh Turis Murah dan Turis Mahal, Namun Begini Jadinya

Bali membutuhkan semua segmen wisatawan baik dengan kemampuan belanja (spending) rendah maupun tinggi.

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Eviera Paramita Sandi

TRIBUN-BALI.COM, BADUNG – Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata (Kemenpar), I Gde Pitana, juga telah mendengar ihwal kabar dijual murahnya pariwisata Bali kepada wisatawan China.

Namun secara diplomatis, guru besar asal Bali ini mengatakan bahwa bukan hanya harga murah yang menjadi masalah.

Namun, diperlukan juga ketegasan dan pengaturan tata niaga pariwisata ke depan, sehingga tidak ada usaha ilegal yang bermain.

“Pasar itu ada segmentasinya. Yang kita permasalahkan sekarang ini bukan hanya (wisata) harga murah. Sebab, harga murah itu berlaku juga untuk Singapura, Malaysia, dan Australia, yang biasanya tidur di homestay. Jadi ingat, yang kita permasalahkan bukan harga murah. Yang kita permasalahkan adalah penipuan-penipuan dan usaha-usaha ilegal yang terjadi terkait pariwisata,” tegasnya dalam acara Diskusi Terfokus (FGD) bertema `Wisatawan Mancanegara Pasar Tiongkok’ di Badung, Kamis (25/10/2018).

Pitana menegaskan, Bali membutuhkan semua segmen wisatawan baik dengan kemampuan belanja (spending) rendah maupun tinggi.

“Kita perlu wisatawan yang kemampuannya (bayar penginapan) satu malam di bawah Rp 500 ribu, karena Bali punya ribuan homestay. Kita juga punya ribuan pondok wisata milik rakyat yang perlu makan,” sebutnya.

Namun Bali juga perlu turis dengan spending di atas Rp 5 juta per malam, karena Bali memiliki hotel berbintang yang luar biasa.

“Kemudian, apakah kita perlu turis China, ya perlu,” tegas Pitana.

Ia pun melihat, setiap pasar yang berkembang dengan pesat selalu ada kekacauan-kekacauan dalam tata niaganya.

“Saya mempelajari pariwisata cukup lama. Ketika tahun 70an, pasar Australia menggeliat dan terjadi kekacauan karena banyak turis Australia dengan dompet tipis datang ke Pulau Dewata,” jelasnya.

Saat itu, Kuta bahkan dikenal dengan wilayah khusus turis Australia yang tidak terlalu memiliki spending. 

Namun belakangan akhirnya turis Australia tertata dengan baik. Saat tahun 80an, wisman Jepang juga baru mulai datang ke Bali, kemudian terjadi kekacauan juga.

“Karena waktu itu kita juga belum siap. Nah sekarang masalahnya, kedatangan turis China daratan yang tata niaganya masih agak kacau. Jadi sekali lagi, bukan karena mereka (turis China) tidak punya uang. Tapi, ini soal tata niaganya,” tegas Pitana.

Pitana mengungkapkan, pengeluaran turis China sebetulnya lumayan besar, yakni rata-rata mencapai 1.018 dolar.

Jauh lebih besar dibandingkan pengeluaran turis Singapura yang rata-rata hanya 650 dolar, dan lebih tinggi dari Malaysia yang hanya 700 dolar.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved