Liputan Khusus
Dua Istana Kerajaan Tertua Turunan Dinasti Majapahit di Bali Ini Runtuh, Begini Kisahnya
Tapi dua istana Kerajaan Mahapahit saat awal masuk Bali itu kini sudah tak ada lagi. Bagaimana jejak sejarah dua puri tersebut?
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Ady Sucipto
Singkat cerita, setelah Raja Bali Dalem Kresna Kepakisan wafat, Kerajaan Majapahit di Bali kemudian dipimpin oleh anaknya yang bernama I Dewa Samprangan.
Namun, ternyata I Dewa Samprangan tak mampu membawa roda pemerintahan kerajaan kala itu. Ia lebih sering bersolek, menatapi rajahnya di depan cermin, ketimbang mengurusi rakyat.
Dengan kondisi kerajaan yang mengalami perubahan drastis kearah yang buruk, maka saudara-saudara raja kemudian meminta adik I Dewa Samprangan, yaitu Dalem Ketut Ngulesir untuk menggantikan posisi raja, atau menggantikan kakaknya.
Dalem Ketut Ngulesir yang pada waktu itu diberi gelar Sri Semara Kepakisan berhasil membawa roda pemerintahan kerajaan lebih baik dan banyak pula mendapat dukungan.
Sri Semara Kepakisan kemudian mendirikan Pura Dasar Bhuana di Gelgel. Rakyat semakin bersatu, dan raja mendapatkan simpati.
Kemudian Sri Semara Kepakisan mendirikan Keraton di Gelgel yang bernama Keraton Sweca Linggarsa Pura untuk menguasai pemerintahan di Gelgel.
Nah, setelah Sri Semara Kepakisan wafat, pemerintahan di Kerajaan Samprangan dan Sweca Linggarsa Pura perlahan runtuh. Penyebabnya dari faktor eksternal dan internal.
Faktor internal, misalnya, karena adanya upaya saling rebut kekuasaan sehingga menyebabkan terjadinya perang antar saudara, sehingga akhirnya tahun 1686 Puri Sweca Linggarsa Pura hancur dijadikan rumah penduduk. Hingga kini jejak puri ini sama sekali tidak ditemukan. (i wayan erwin widyaswara)