Ajak Anak Anda Beraktivitas di Luar Ruangan! Para Peneliti Peringatkan Risiko Rabun Jauh
Ada semakin banyak penelitian yang menunjukkan waktu bermain di luar dapat menurunkan risiko anak mengembangkan miopia.
Penulis: Widyartha Suryawan | Editor: Eviera Paramita Sandi
TRIBUN-BALI.COM - Membawa anak-anak bermain di luar ruangan ternyata baik.
Terutama bagi penglihatan mereka untuk mengurangi risiko rabun jauh atau miopia.
Miopia menjadi semakin umum di seluruh dunia.
Dilansir dari sciencealert.com, pada 2050 diperkirakan sebanyak 4,8 miliar orang akan terpengaruh oleh gangguan penglihatan ini.
Jumlah tersebut sekitar 2,8 miliar orang lebih banyak dibandingkan pada 2010.
Sebaliknya, para ahli mengatakan kita telah meremehkan bagaimana penglihatan kita dipengaruhi oleh lingkungan, dan jarangnya aktivitas di luar ruangan pada khususnya.
Saat ini, ada semakin banyak penelitian yang menunjukkan waktu bermain di luar dapat menurunkan risiko anak mengembangkan miopia.
Tidak hanya karena berada di luar ruangan yang memaksa Anda untuk melihat lebih jauh ke kejauhan, paparan pencahayaan outdoor juga dianggap penting karena tampaknya memperlambat pertumbuhan mata secara aksial.
Pertumbuhan yang berlebihan inilah yang berkontribusi pada miopia.
Satu penelitian menemukan bahwa bahkan ketika seorang anak memiliki dua orang tua yang rabun dekat, jika mereka tidak menghabiskan cukup waktu di luar rumah, ancaman genetik miopia meningkat menjadi sekitar 60 persen.
Pengaruh Teknologi
Faktor berikutnya yang juga dianggap merusak mata adalah teknologi.
Berdasarkan penelitian tersebut, jam-jam yang dihabiskan untuk bermain game komputer pada masa remaja awal meningkatkan kemungkinan menjadi rabun jauh.
Hal ini sebenarnya merupakan cerminan betapa sedikit waktu yang kita habiskan di luar ruangan.
Walaupun misalnya berada di luar ruangan, mata kita tampaknya tidak bisa lepas dari layar gadget yang ada di genggaman.
"Peningkatan (menatap layar) yang dihasilkan dari game, media sosial, dan hiburan digital telah menyebabkan peningkatan perilaku menetap, pola makan yang buruk dan kurangnya aktivitas luar ruangan," kata para penulis sebagaimana dikutip sciencealert.com. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/bupati_20160512_175654.jpg)