Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Empat Paradigma Keliru Tentang HIV, dari Tak Ada Obat hingga Pasti Meninggal

Kesulitan dalam penanganan HIV/AIDS saat ini menurut Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Gianyar yaitu stigma negatif masyarakat

Penulis: Putu Supartika | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/I Putu Supartika
Konferensi pers acara konser peduli HIV 2018, Kamis (29/11/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kesulitan dalam penanganan HIV/AIDS saat ini menurut Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Gianyar, AA Agung Suardana yaitu stigma negatif masyarakat terhadap penderita.

Setidaknya ada empat paradigma negatif terkait HIV/AIDS ini yang disampaikan Kamis (29/11/2018).

1. Sangat mudah menular

Terkait hal ini Suardana mengatakan bahwa penyakit HIV ini sama dengan penyakit kronis lain, seperti diabetes maupun hipertensi.

HIV hanya bisa ditularkan lewat hubungan seks berisiko, air susu ibu, cairan kelamin, penggunaan jarum suntik bersama, maupun kontak darah langsung dengan penderita HIV.

2. HIV tak ada obatnya

HIV tidak ada obatnya tidak benar.

Saat ini sudah ada obatnya yaitu antiretroviral.

"Antiretroviral ini untuk melemahkan dan menghambat perkembangbiakan virus," katanya.

3. Sekali tertular pasti meninggal

"Apakah harus mati? Sepanjang begitu terdiagnosa HIV mau melakukan pengobatan dini dan mematuhi kepatuhan dokter, saya yakin pasti sembuh," jelasnya.

Akan tetapi pengidap HIV tidak boleh berhenti minum obat saat telah merasa sehat.

"Kalau terhenti akan resistan terhadap obat dan virus berkembang makin cepat, dan jika dibiarkan akan ke fase akhir. Ini permaslahan ruwet karena banyak penyakit akan masuk, seperti diare akan lebih menyulitkan pengobatan," katanya.

4. Tidak bisa punya anak

Padahal yang terkena HIV bisa punya anak dengan program dokter.

"Masalah anak supaya terhindar HIV yaitu saat ibu hamil yang mengidap HIV melapor atau memeriksakan ke dokter, sehingga bisa diambul langkah-langkah oleh dokter untuk menyelamatkan generasi muda," paparnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved