Breaking News:

Kisah Ketut Salin, Tunanetra Penyelaras Gamelan Berjuang Menghidupi Dua Anaknya

Upayanya menyelaraskan nada gamelan pun berbuah tawaran kerja, hingga kini Ketut Salin masih tetap bekerja di rumah produksi gamelan

Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Ketut Salin mencoba instrumen gamelan gangsa yang ada di bengkel tempatnya bekerja, Rabu (5/12/2018). 

Walaupun kenyataan yang diterima berbanding terbalik, Ketut Salin mengaku masih beruntung.

Sebab, ia memiliki teman-teman yang tidak membedakan serta masih tetap mau bergaul dengannya.

Hal ini yang diakuinya menjadi semangat, serta sedikit demi sedikit mengubah rasa mindernya.

“Sekitar tahun 1997 juga saya sempat main-main ke radio desa. Di sana saya diajari cara berkomunikasi lewat radio, hingga memiliki banyak teman. Dan dari sanalah, saya juga disarankan agar tidak lagi minder sampai sekarang,” tuturnya.

Hilangnya rasa minder, memberanikan dirinya untuk mempersunting pujaan hati pada tahun 2001.

Sejak saat itu pula, ia semakin semangat mencari pekerjaan walau hanya serabutan.

Pada tahun 2003, saat berkunjung ke rumah produksi gamelan, lanjut Salin, ia sempat ditunjukkan instrumen gamelan dari besi yang dibuat sendiri oleh pemiliknya.

Ia pun mencoba memainkan gamelan itu, namun diakui suara yang dihasilkan kurang bagus.

Berbekal pengalaman berkesenian gamelan yang dipelajari secara otodidak saat berusia lima tahun hingga menjadi anggota sekaa joged, gamelan tersebut diperbaiki dengan cara disetel atau diselaraskan nada-nadanya.

Bak gayung bersambut, upayanya menyelaraskan nada gamelan pun berbuah tawaran kerja, hingga kini Ketut Salin masih tetap bekerja di rumah produksi gamelan itu sebagai juru setel atau tukang laras pada gangsa, kantil, dan jegog.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved