Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Serba Serbi

Apa Kala Itu Sangat Mengerikan?

Kala atau waktu mempunyai banyak makna dalam berbagai tradisi baik di dalam tradisi agama, filsafat, spiritualitas, sains, dan seni

Tayang:
Penulis: Putu Supartika | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/I Putu Supartika
Rembug Sastra Purnama Badrawada di Pura Jagatnatha, Sabtu (22/12/2018) malam. 

Dalam konteks Galungan dan Kuningan, perbendaharaan kata ‘Kala’, seperti Kala-Tiga terasa sangat terkait.

"Dengan demikian kata ini tidak lagi asing bagi umat Hindu, namun sering dipahami sebagai kata yang berkonotasi negatif, diasosiasikan dengan dunia gaib, wujud atau figur yang menakutkan atau mengerikan dan sering dikaitkan dengan kematian sehingga tidak menarik untuk dipelajari," katanya.

Begitu juga konsep “Desa-Kala-Patra” yang populer di kalangan masyarakat Hindu di Bali sesungguhnya adalah sebuah bentuk kesadaran akan ruang dan waktu.

Konsep ini dijadikan pedoman atau acuan seandainya ada perbedaan-perbedaan di dalam pelaksanaan yadnya atau tradisi keagamaan.

Secara umum Kala bermakna waktu yang tepat, kesempatan, keadaan, musim, dan waktu makan; akhir, kematian, waktu kematian, dan dewa kematian; dan makna ketiga diungkapkan dengan kata dista artinya sesuatu yang telah ditata atau diamanatkan.

"Banyak ada makna kata Kala, demikian juga perkembangan pemikiran mengenai waktu pada zaman Weda dan sesudahnya. Kajian atas sejumlah himne pada Weda, dan Upanisad memberi pandangan baru bahwa Waktu bisa terbatas (Kala) dan tak terbatas (Akala)," katanya.

Disamping sebagai pengarah atau penggerak, waktu juga bermakna akhir dan Dewa Kematian.

"Makna Dewa Kematian ini yang lebih populer di kalangan masyarakat sehingga aspek-aspek halus dari waktu kurang mendapat perhatian. Di dalam tradisi kitab-kitab Agama, Siwa diidentikkan dengan Kala, Mahakala, Kali, dan sebagainya. Sesuai dengan ajaran Siwa-Tattwa, Kala, Kali dan sebagainya merupakan wujud aspek dinamis, kekuatan (Sakti) dari Siwa yang lahir setelah Cetana (atau Siwa-Tattwa) bertemu dengan Acetana (Maya-Tattwa) sehingga bisa berfungsi sebagai pelebur (pemralina) dan Dewa atas Kematian," paparnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved