Serba Serbi
Banten Saiban Ikut Sumbang Sampah Plastik? Begini Penjelasannya
Menurut pendiri Komunitas Malu Dong, Komang Sudiarta, penggunaan plastik juga dilakukan dalam kegiatan keagamaan
Penulis: Putu Supartika | Editor: Irma Budiarti
Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Saat ini wacana pengurangan kantong plastik di Bali dan Denpasar sedang gencar-gencarnya dilaksanakan.
Bahkan untuk menyukseskan hal ini, dalam pelaksanaan Denfest ke-IX juga diadakan kampanye pengurangan penggunaan kantong plastik.
Pengumuman di berbagai tempat, bahkan MC acara pun ikut mendengungkan hal tersebut dan mengingatkan para pengunjung terkait wacana ini.
Namun, sampah plastik tak hanya disumbang oleh pusat perbelanjaan, namun juga oleh kegiatan keagaamaan.
Salah satu bentuk nyatanya bisa dilihat saat mebanten saiban atau rarapan.
Hal ini dikatakan oleh pendiri Komunitas Malu Dong, Komang Sudiarta atau yang biasa disapa Komang Bemo ketika ditemui di areal Denfest ke-XI.
Rarapan atau saiban berupa permen, air kemasan, jajan berbungkus plastik juga ikut menyumbang sampah plastik.
"Kita maturan canang, isi permen, itu juga kita ikut menyumbang plastik. Seharusnya yang berwenang terkait hal itu seperti PHDI ikut menyosialisasikan bagaimana seharusnya agar tidak ikut menyumbang sampah plastik," kata Bemo, Sabtu (29/12/2018) siang.
Bahkan, mengenai hal itu, Bemo sempat bertanya ke Pedanda Nabe dari Gria Aan Klungkung.
Dari sana ia mengetahui bahwa saat menghaturkan rarapan ataupun saiban bungkusnya harus dibuka.
"Ida mengatakan, apapun yang anda haturkan tidak dibuka, tidak diterima. Apakah itu permen atau jajan harus dibuka, bungkusnya kita ambil dan buang pada tempat sampah," katanya.
Rarapan tersebut dibuka juga dengan harapan diterima oleh semua makhluk seperti semut.
Selain itu, ia juga mengkhawatirkan terkait penggunaan plastik sebagai wadah canang.
"Semua harus mendukung. Saat 1.000 orang bersih-bersih, lalu datang 2.000 orang bawa canang dengan plastik sama saja dengan bohong," katanya.
Selain itu, ia juga menambahkan semua banten yang sudah selesai digunakan dalam sebuah upacara bisa langsung diangkut dan dibuang ke tempat sampah sehingga tidak berserakan.
Saat ini Komunitas Malu Dong bekerja sama dengan Pedanda Nabe dari Gria Aan Klungkung sedang membuat video pendek terkait pengurangan bahkan penghentian penggunaan plastik dalam kegiatan keagamaan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/seorang-perempuan-menghaturkan-sesajen_20180604_100657.jpg)