Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Puncak Karya di Pura Dalem Agung Kawitan Pratisentana SNKK Dipimpin 6 Sulinggih

Puncak karya di Pura Dalem Agung Kawitan Pratisentana Shri Nararya Kresna Kepakisan dipimpin oleh 6 orang sulinggih

Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Irma Budiarti
Istimewa
Prosesi pendanaan serangkaian karya di Dalem Agung Pura Kawitan Shri Nararya Kresna Kepakisan, Sabtu (5/1/2019). 

Pasemetonan pratisentana SNKK dipersilakan untuk tangkil menghaturkan bhakti.

"Selain itu dilangsungkan juga upacara makebat daun dan bangun ayu pada 9 Januari 2019, upacara nyenuk 11 Januari 2019, dan nyegara gunung 19 Januari 2019 ," ujarnya.

Karya yang diselenggarakan pratisentana SNKK di Pura Dalem Agung adalah karya yang kedua.

Karya pertama tahun 1994, setelah mulai dipugar kembali tahun 1984, pasca terdampak letusan Gunung Agung di tahun 1963.

Saat Gunung Agung meletus, laharnya menghanyutkan Pura Dalem Dukuh dan pura lainnya.

Tapakan Ida Betara Kawitan berupa Pratima pernah distanakan untuk sementara di Puri Keramas.

Kemudian untuk menyatukan kembali Pratisentana dari Ida Betara Kawitan, dilakukanlah pemugaran kembali pada tahun 1984.

Pura Dalem Agung memiliki sejarah cukup panjang.

Pura Dalem Agung awalnya bernama Pura Dalem Dukuh.

Dibangun masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong oleh Patih Agung Kyai Agung Petandakan, salah satu pasemetonan pratisentana SNKK.

Yang distanakan di Pura Dalem Agung adalah Ida Betara Kawitan, Shri Nararya Kresna Kepakisan.

Beliau salah satu trah Raja Kediri yang ditugaskan mendampingi Sri Aji Kresna Kepakisan menjadi Adipati Bali, beristana di Samprangan sekitar tahun 1352 - 1380 Masehi.

Selanjutnya, penyempurnaan Pura Dalem Dukuh dilanjutkan oleh Ida I Gusti Agung Maruti.

Setelah akhir pemerintahan dan pergi ke Jimbaran, Pura Dalem Dukuh selanjutnya diempon Pratisentana SNKK dari treh Pangeran Nyuh Aya dengan cara nyineb wangsa, yang kini terhimpun dalam satu banjar Dukuh Nyuh Aya, Desa Gelgel.

Ida Betara Kawitan Shri Nararya Kresna Kapakisan distanakan di pelinggih meru Tumpang Sia, sedangkan leluhur yang lainnya distanakan di gedong dalem diantaranya, Pangeran Nyuh Aya, Pangeran Asak dan para leluhur lainnya yang meninggal di Gelgel. (*)

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved