Dharma Wacana
Kekeliruan Mengarak Ogoh-ogoh
Ogoh-ogoh ini biasanya diarak saat malam atau setelah warga selesai menggelar pecaruan, baik di rumah masing-masing, catus pata dan sebagainya
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Irma Budiarti
Apakah sama sekali tidak boleh mengarak ogoh-ogoh usai mecaru?
Tetap bisa.
Tapi, bentuk ogoh-ogohnya jangan yang berbentuk raksasa atau yang menyimbolkan keangkaramurkaan.
Namun ogoh-ogoh yang humanis, seperti Panca Pandawa, Sri Rama dan karakter lainnya yang merupakan simbol dharma (kebaikan).
Hal tersebut dapat dimaknai, sifat-sifat bhuta kala telah dilenyapkan dan lahirlah sifat kedewataan.
Atau bisa juga membuat ogoh-ogoh yang menceritakan tentang kekalahan adharma melawan dharma.
Baca: Banjir Order karena DBD, Kisah Heru Budidayakan Ikan Cupang Hingga Raih Omset Belasan Juta
Baca: Hilang Sejak 14 Januari Lalu, Bocah Perempuan Ini Ditemukan Tewas dengan Tubuh Tak Utuh
Salah satu cerita yang tepat adalah matinya Hiranyakasipu.
Pegelaran ini sangat tepat dilakukan ketika sandikala.
Jadi kalau ada satu ogoh-ogoh dengan karakter Bhuta Kala saja, itu merupakan penyimpangan dari Tawur Kesanga.
Marilah semua pihak, baik itu prajuru adat hingga para juri dalam pawai ogoh-ogoh, supaya mempertimbangkan aspek ini.
Sebab, jangan sampai ritual kita yang suci justru ternodai oleh ketidaktahuan kita.
Ini bukanlah suatu wacana ‘nyerem-nyerem’ atau menakut-nakuti masyarakat, atau ingin merombak sebuah tradisi atau kebiasaan yang sudah berjalan bertahun-tahun.
Namun kalau kita melihat ke belakang, banyak generasi muda yang menjadi korban, dan banyak permusuhan antar desa adat yang tersulut ogoh-ogoh.
Kemungkinan besar, hal tersebut terjadi lantaran selama ini kita salah waktu hingga kesalahan mengambil karakter dalam mementaskan ogoh-ogoh. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pawai-ogoh-ogoh-dilarang-keras-nyrempet-politik-sara.jpg)