Lama Tanpa Status, Muncul Wacana Jadikan Rejang Renteng Sebagai Tari Wali
Setelah lama tanpa status, kini Tari Rejang Renteng diwacanakan akan menjadi tari wali.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Widyartha Suryawan
Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Setelah lama tanpa status, kini Tari Rejang Renteng diwacanakan akan menjadi tari wali.
Hal tersebut mengemuka saat workshop Tari Rejang Renteng yang dilaksanakan oleh UPT Taman Budaya, Kamis (21/2/2019) siang.
Tari wali merupakan jenis tari yang bersifat sakral, bersifat religius yang dipentaskan dalam upacara Hindu.
Diwacanakannya Rejang Renteng menjadi tari wali disebut-sebut telah memenuhi unsur-unsur untuk menjadi tari wali.
"Saya rasa nilai satyam, siwan, sundaram, sudah jelas dalam tarian ini dan sekarang bagaimana mengukuhkannya. Ini memang akan terasa aneh saat menciptakan tari wali baru, namun tahun 1970-an, Tari Rejang Dewa belum ada, tapi sekarang diterima jadi tari wali.
"Nah, itu namanya budaya, biarkan mengalir jangan dipaksakan. Kalau dipaksakan itu yang bahaya," kata budayawan dan akademisi, Prof. Dr. I Wayan Dibya saat Workshop Tari Rejang Renteng di Art Center, Kamis (21/2/2019).
Tujuan pewacanaannya menjadi tari wali ini agar lebih jelas posisinya, sehingga masyarakat tidak bingung apakah masuk tari wali atau tari bebali.
Agar tari ini tidak terkesan menjadi tari yang populer, perlu dilaksanakan kesatuan tafsir dan hasilnya kemudian disosialisasikan ke masyarakat dan juga sanggar.
"Para pemilik sanggar juga ikut mengkondisikan supaya mereka mengindahkan dan mengamankan kesepakatan itu. Sehingga akan menutup kekuatan popularitasnya untuk dijadikan ajang macam-macam yang akan menurunkan keskralannya," kata Dibya.
Dibya mengatakan, keberadaan Tari Rejang Renteng ini begitu digandrungi karena tarian ini secara penampilan menarik dan artistik. Di samping pula pelaku yang manarikan mendapat kepuasan estetik selain untuk ngayah.
Tarian ini biasanya dibawakan secara massal.
Di tengah orang banyak, justru dengan menari bersama muncul kebersamaan kelompok wanita di masyarakat dan mengikat persaudaraan.
"Selain itu gerakannya tidak terlalu sulit sehingga yang tidak kuat basic menarinya tidak ketahuan, beda dengan Tari Panyembrahma, kan akan malu kalau salah," katanya.
Setelah wacana menjadikan Tari Rejang Renteng sebagai tari wali disepakati, maka saat menarikannya harus diposisikan layaknya tari skaral.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/para-penari-membawakan-tari-rejang-renteng-massal.jpg)