Ngopi Santai

Karya Suci dan Politik yang Banal

Penyerahan catu dilakukan penuh seremonial di hadapan warga; dan karena simakrama digelar di sebuah pura, maka Ida Betara pun turut menyaksikannya.

Penulis: Widyartha Suryawan | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari

Mereka menyerupai orang asing yang tiba-tiba muncul di tengah kerumunan warga dan mencitrakan diri sebagai seorang dermawan yang layak dipilih saat hari pencoblosan.

(Sekadar catatan, Sugi Lanus dalam sebuah esainya menelusuri terjadinya lompatan makna simakrama yang semula berarti ‘silaturahmi’ menjadi sekadar sowan politik “…yang penuh motif kekuasaan dibanding murni tanpa muatan kekuasaan.”).

Setelah simakrama atau bertatap muka dengan warga dalam sebuah kerumunan massa, adegan diakhiri dengan penyerahan catu (uang, terkadang dengan amplop) yang ditaruh di atas canang oleh Sang Caleg kepada perwakilan pemilik hajatan.

Bila sudah begitu, sontak riuh tepuk tangan tak terbendung.

Acara simakrama diakhiri dengan sesi foto bersama, sembari menunjukkan gaya khas masing-masing (misalnya dengan mengancungkan tangan untuk menunjukkan nomor urutnya yang tercantum dalam surat suara saat hari pencoblosan nanti).

Cara-cara menarik simpati massa tidak hanya dilakukan di level paibon, tetapi juga telah masuk ke banjar-banjar maupun desa adat.

Bukan sesuatu yang mengherankan terlebih lagi bila kelian banjar atau kelian adat tersebut pada dasarnya telah tergabung dalam partai politik tertentu sebelumnya.

Bahkan, tempat suci seperti pura sekalipun menjadi sasaran para Caleg untuk meraih dukungan.

Dia bisa datang saat pujawali, atau sering pula kehadirannya itu untuk memenuhi undangan yang secara khusus dilayangkan oleh panitia pujawali.

Sekalipun ikut sembahyang ketika hadir saat pujawali di sebuah pura, tetapi Sang Caleg kerap diperlakukan sebagai ‘Pemedek yang Lain’.

Kedatangannya disambut secara khusus.

Petinggi desa adat atau tokoh-tokoh masyarakat di lingkungan pura akan menjabat tangan Sang Caleg, ‘Sang Pemedek yang Lain’ itu, lalu bercengkrama di tempat yang telah disiapkan secara khusus.

Acara seperti ini akan diakhiri dengan adegan yang sama: menyerahkan segempok uang yang ditaruh di atas canang

Penyerahan catu dilakukan penuh seremonial di hadapan warga; dan karena simakrama digelar di sebuah pura, maka Ida Betara pun turut menyaksikannya.

Politik praktis, terlebih menjelang Pemilu, memang sering menyerupai drama penuh intrik dan manipulatif. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved