Ngopi Santai

Karya Suci dan Politik yang Banal

Penyerahan catu dilakukan penuh seremonial di hadapan warga; dan karena simakrama digelar di sebuah pura, maka Ida Betara pun turut menyaksikannya.

Cara-cara menarik simpati massa tidak hanya dilakukan di level paibon, tetapi juga telah masuk ke banjar-banjar maupun desa adat.

Bukan sesuatu yang mengherankan terlebih lagi bila kelian banjar atau kelian adat tersebut pada dasarnya telah tergabung dalam partai politik tertentu sebelumnya.

Bahkan, tempat suci seperti pura sekalipun menjadi sasaran para Caleg untuk meraih dukungan.

Dia bisa datang saat pujawali, atau sering pula kehadirannya itu untuk memenuhi undangan yang secara khusus dilayangkan oleh panitia pujawali.

Sekalipun ikut sembahyang ketika hadir saat pujawali di sebuah pura, tetapi Sang Caleg kerap diperlakukan sebagai ‘Pemedek yang Lain’.

Kedatangannya disambut secara khusus.

Petinggi desa adat atau tokoh-tokoh masyarakat di lingkungan pura akan menjabat tangan Sang Caleg, ‘Sang Pemedek yang Lain’ itu, lalu bercengkrama di tempat yang telah disiapkan secara khusus.

Acara seperti ini akan diakhiri dengan adegan yang sama: menyerahkan segempok uang yang ditaruh di atas canang

Penyerahan catu dilakukan penuh seremonial di hadapan warga; dan karena simakrama digelar di sebuah pura, maka Ida Betara pun turut menyaksikannya.

Politik praktis, terlebih menjelang Pemilu, memang sering menyerupai drama penuh intrik dan manipulatif. 

Halaman
1234
Penulis: Widyartha Suryawan
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved