Benarkah Game Kekerasan Berkaitan dengan Agresivitas Menyerang Orang Lain?
Adakah kaitan antara kebiasaan menonton game/permainan berbau kekerasan dan efeknya terhadap agresivitas menyerang orang lain?
TRIBUN-BALI.COM - Benarkah penembakan brutal di Masjid kota Christchurch Selandia Baru oleh Brenton Tarrant sebagai dampak dari menonton video kekerasan?
Pertanyaan ini selalu mengemuka setiap kali terjadi aksi terorisme brutal.
Selalu muncul pertanyaan, adakah kaitan antara kebiasaan menonton game/permainan berbau kekerasan dan efeknya terhadap agresivitas menyerang orang lain?
Baca: Gaji PNS Naik, Ini Besaran Gaji Baru yang Diterima
Baca: Tiada Kecewa! Haudi Abdillah Berharap BU Juara Piala Indonesia
Yang pasti, nama Brenton Tarrant bisa dipastikan menjadi pembicaraan di berbagai belahan dunia, saat ini.
Brenton Tarrant, secara brutal menembaki jemaah masjid yang hendak menunaikan ibadah Salat Jumat di Selandia Baru, Jumat (15/3/2019).

Tindakan biadab Tarrant, yang tak mengenal peri kemanusian, membuat kaget sejumlah orang yang mengaku kenal dengannya.
Sebanyak 49 orang tewas akibat serangan membabi buta Tarrant dan senjata laras panjangnya.
Mengutip Kompas.com, perdebatan mengenai adanya hubungan antara game dan film bertema kekerasan dengan sifat agresif dalam kehidupan nyata telah cukup lama berlangsung.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan, bahwa orang-orang yang bermain video game kekerasan dapat menjadi lebih peka terhadap kekerasan, menjadi lebih agresif, dan menunjukkan tingkat empati yang lebih rendah.
Tetapi, tim peneliti di Jerman mengatakan, dalam jangka panjang, game atau film bertema kekerasan dengan perilaku agresif tidak ada hubungannya.
Namun, dalam jangka pendek kemungkinan ada.
Baca: Teco Tak Masalah Bali United Out dari Piala Presiden 2019
Baca: Pernikahan ‘Manusia Langka’ dan Dayu Kenari di Ubud, Budiarsa: ‘Semoga Tuhan Memberi Kami Jalan’
Dr Gregor Szycik, dari Hanover Medical School, mengatakan, "Kami berharap bahwa studi ini akan mendorong kelompok penelitian lain untuk memusatkan perhatian pada efek jangka panjang yang mungkin timbul dari video game terhadap perilaku manusia."
Timnya meneliti sekelompok pemain laki-laki dewasa, karena bermain game kekerasan dan perilaku agresif kerap lebih menonjol pada pria, kata para peneliti.
Semua peserta telah memainkan shooter video game, termasuk Call Of Dutyatau Counterstrike untuk setidaknya dua jam sehari selama empat tahun terakhir, meski waktu bermain rata-rata adalah empat jam setiap hari.
Baca: Mewali ke Bali, Indra Sjafri Terharu Sambutan Fans dan Manajemen Bali United
Baca: Serangan Brutal di Masjid di Selandia Baru, Bom Rakitan Berhasil Dinetralkan Militer.
Peneliti lalu membandingkan perilaku gamer dengan kelompok yang tidak memiliki pengalaman video game kekerasan, dan yang tidak bermain game secara teratur.
Untuk menguji kemampuan gamer dalam hal empati dan agresi, para peneliti melakukan kuesioner psikologis.
Kemudian, saat menjalani scan MRI, para gamer ditunjukkan serangkaian gambar yang dirancang untuk memancing berbagai tanggapan emosional.
Menggunakan scanner MRI pula, para peneliti mampu mengukur bagian-bagian tertentu dari otak, untuk membandingkan aktivitas dan tanggapan dari gamer dan non-gamer.
Baca: TRIBUN WIKI - 10 Bengkel Resmi Astra Motor di Bali, Informasi Lengkap Alamat & Nomor Telepon
Baca: Program Pajak Gratis di Badung Tak Mampu Bendung Alih Fungsi Lahan Pertanian
Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan antara dua kelompok, keduanya menunjukkan respons otak mirip dengan gambar.
Dr Szycik mengatakan timnya terkejut dengan temuan mereka, yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Psychology.
Dia mengatakan mereka menunjukkan bahwa efek negatif dari video game kekerasan pada perilaku, hanya bersifat jangka pendek.
Tapi, ia menambahkan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan.
Baca: Pak Dubes, Kami Selamat, Mahasiswa Indonesia Saksi Penembakan Menyelamatkan Diri ke Rumah Penduduk
Baca: Prioritas Penanganan Rabies di 3 Zona Merah, Gelontorkan Rp 23 M Menuju Bali Bebas Rabies 2020
Hanya saja Dr Szycik menambahkan, penelitian ini dilakukan pada laki-laki dewasa, bukan pada anak-anak.
Sehingga, baiknya orangtua mencegah anak-anak bermain game kekerasan jenis apapun, hingga usia mereka dewasa atau di atas 18 tahun.
Pasalnya, efek jangka pendek dari game kekerasan sangat mungkin ada.
Dan anak-anak lebih mudah menyerap apa yang mereka dapatkan dan berisiko memiliki dampak hingga jangka panjang. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunstyle.com dengan judul Benarkah Penembakan Brutal Brenton Tarrant di Selandia Baru Terpicu Game Kekerasan? Ini Jawabannya