Soekarno Disebut Kerap Semadi di Pura Dalem Madura, Tampaksiring, Genah Nunas Tamba
Pura Dalem Madura disebut-sebut sebagai tempat semadi Soekarno. Pura ini berada di Banjar Kelodan, Desa/Kecamatan Tampaksiring, merupakan desa tua, y
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Gusti Mangku pun siap memberikan tutorial pemakaian tamba yang didapat umat secara niskala.
“Kalau mau nunas tamba, bilang saja ke sini. Membawa canang sari saja boleh, tidak ada patokan apapun. Sebab kan orang ke sini, orang yang sakit. Masak orang sakit kita sakiti lagi. Kalau terlalu saklek kasihan umat,” ujarnya.
Menurut Gusti Mangku, Bung Karno juga kerap datang ke pura tersebut untuk bersemadi.
“Biasanya Bung Karno ke sini diam-diam. Tapi anehnya, belum lama ini ada sekitar 11 orang dari Jakarta dan Surabaya napak tilas jejak Bung Karno. Mereka membawa ambengan, nunas pengelukatan. Saya heran, kok mereka tahu Soekarno sering ke sini,” ujarnya.
Meskipun banyak masyarakat bahkan pejabat pemerintahan, baik nasional dan lokal mendapatkan anugrah Ida Ratu Dalem Madura, namun saat ini, kondisi pura masih tetap tradisional.
Itu karena prinsip Gusti Mangku yang tak ingin mendewakan pura.
“Banyak orang yang mendewakan pura. Pura yang masih bagus diubah. Sementara dewa yang ada di dalam dirinya, terabaikan. ‘Misi puyung ten ade menawang’. Tuhan itu ada di dalam diri kita, tidak perlu mencari jauh-jauh,” ujarnya.
Tak Sembarang Orang Bisa Nyolahang Ratu Niang
Pura Dalem Madura, di Banjar Kelodan, Desa/Kecamatan Tampaksiring memiliki dua sesuhunan, yakni Ratu Niang (rangda) dan Ratu Alit Gana (barong gajah).
Sebelum distanakan di Pura Dalem Madura, kedua sesuhunan yang dibuat pada zaman Kerajaan Tampaksiring ini, distanakan di rumah keluarga Gusti Mangku Pepasih, sebagai tokoh pemelihara jagat Tampaksiring.
Gusti Mangku Pepasih, mengatakan saat susuhunan Ratu Alit Gana dan Ratu Niang distanakan di rumahnya, banyak hal-hal mistis terjadi.
Setiap hari-hari tertentu, seperti Kajang Kliwon, Ratu Niang selalu tertawa.
Namun tidak ada pihak keluarga yang takut mendengarkan tawa tersebut.
Sebab Ratu Niang merupakan pelindung jagat, dan tawanya yang dapat didengar, membuat sembah bakti masyarakat semakin dalam.
“Saat ini pun, masih menunjukkan tanda-tanda Ida masih berada dalam rangda,” ujarnya.