Begini Saran Ahli Kandungan dr Mintareja Teguh Atasi Stunting Pada Anak
stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus
Penulis: Rizki Laelani | Editor: Rizki Laelani
Begini Saran Ahli Kandungan dr Mintareja Teguh Atasi Stunting Pada Anak
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sebagian masyarakat mungkin kurang akrab dengan istilah stunting.
Akibat stunting, anak di bawah usia lima tahun pertumbuhannya terhambat.
Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama.
Umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi.
Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun.
Menurut UNICEF, stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO.
Selain pertumbuhan terhambat, stunting juga dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal, yang menyebabkan kemampuan mental dan belajar yang kurang, serta prestasi sekolah yang buruk.
Stunting dan kondisi lain terkait kurang gizi, juga dianggap sebagai salah satu faktor risiko diabetes, hipertensi, obesitas dan kematian akibat infeksi.
Ahli kandungan, DR. dr. Mintareja Teguh, SpOG (K) mengatakan, dalam menghadapi anak dalam kasus stunting harus dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh.
"Misal, dari makanan cepat saji. Kita cek enzim si anak baik atau tidak. Jika bermasalah, makan akan berpengaruh pada metabolisme yang lain," sebutnya di sela acara talkshow Cordilife Pregnancy Journey di Apotek PIP, Denpasar, Sabtu (30/3/2019).
Asupan gizi untuk anak agar mencegah stunting, harus dilakukan sejak si ibu dinyatakan positif hamil.
Dari sana, semua asupan makanan harus diperhatikan betul.
"Konsumsi makanan si ibu saat mulai diketahui hamil harus diperhatikan. Karena akan berpengaruh pada janin."
"Misal, si ibu saat masa kehamilan sukanya daging saja, tanpa mau konsumsi sayur atau buah. Makan akan terjadi kekurangan asa folat. Dan itu sangat tidak baik baik si janin, begitupun saat melahirkan nanti," sebutnya.
Peran asam folat sangat penting dalam perkembangan otak dan sumsum tulang belakang bayi.
Mengonsumsi asam folat selama kehamilan dapat mengurangi risiko gangguan kehamilan hingga 72 persen.
Asam folat membantu mencegah cacat tabung saraf, penyakit bawaan lahir karena gagalnya perkembangan organ bayi.
Dikutip dari kompas.com, penyebab Stunting Situs Adoption Nutrition menyebutkan, stunting berkembang dalam jangka panjang karena kombinasi dari beberapa atau semua faktor-faktor berikut:
1. Kurang gizi kronis dalam waktu lama
2. Retardasi pertumbuhan intrauterine
3. Tidak cukup protein dalam proporsi total asupan kalori
4. Perubahan hormon yang dipicu oleh stres
5. Sering menderita infeksi di awal kehidupan seorang anak. Perkembangan stunting adalah proses yang lambat, kumulatif dan tidak berarti bahwa asupan makanan saat ini tidak memadai. Kegagalan pertumbuhan mungkin telah terjadi di masa lalu seorang.
Gejala Stunting
1. Anak berbadan lebih pendek untuk anak seusianya
2. Proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak tampak lebih muda/kecil untuk usianya
3. Berat badan rendah untuk anak seusianya
4. Pertumbuhan tulang tertunda
Mencegah Stunting
Waktu terbaik untuk mencegah stunting adalah selama kehamilan dan dua tahun pertama kehidupan.
Stunting di awal kehidupan akan berdampak buruk pada kesehatan, kognitif, dan fungsional ketika dewasa.
Stunting mulai terjadi ketika janin masih dalam kandungan disebabkan oleh asupan makanan ibu selama kehamilan yang kurang bergizi.
Akibatnya, gizi yang didapat anak dalam kandungan tidak mencukupi.
Kekurangan gizi akan menghambat pertumbuhan bayi dan bisa terus berlanjut setelah kelahiran.
Selain itu, stunting juga bisa terjadi akibat asupan gizi saat anak masih di bawah usia 2 tahun tidak tercukupi.
Entah itu karena tidak diberikan ASI eksklusif, atau MPASI (makanan pendamping ASI) yang diberikan kurang mengandung zat gizi yang berkualitas, termasuk zink, zat besi, serta protein.
Efek stunting tidak bisa dikembalikan seperti semula jika sudah terjadi.
Terlebih, kekurangan gizi pada anak usia dini meningkatkan angka kematian bayi dan anak. Maka, gangguan pertumbuhan ini harus segera ditangani dengan tepat.
Namun, selalu lebih baik untuk mencegah stunting daripada mengobatinya.
Mencegah stunting sudah bisa dilakukan sejak dini semenjak masa kehamilan.
Kuncinya tentu dengan meningkatkan asupan gizi ibu hamil dengan makanan yang berkualitas baik.
Zat besi dan asam folat adalah kombinasi nutrisi penting selama kehamilan yang dapat mencegah stunting pada anak ketika ia dilahirkan nanti. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/begini-saran-ahli-kandungan-dr-mintareja-teguh-atasi-stunting-pada-anak.jpg)