Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Mirip Stroke, Kelumpuhan Otot Secara Mendadak Bisa Jadi Serangan Katapleksi, Apa Itu?

Selama serangan ringan, mungkin ada kelemahan otot yang hampir tidak terlihat, seperti terkulainya kelopak mata.

Tayang:
Editor: Eviera Paramita Sandi
Dr. John D. Bray, MD
Gejala Kelumpuhan Otot Secara Mendadak Bisa Jadi Serangan Katapleksi 

TRIBUN-BALI.COM - Katapleksi terjadi mendadak, ini terjadi jika Anda akan kehilangan kekuatan otot-otot secara tiba-tiba dan lumpuh sementara.

Serangan katapleksi terjadi selama jam bangun.

Selama serangan ringan, mungkin ada kelemahan otot yang hampir tidak terlihat, seperti terkulainya kelopak mata.

Namun pada tingkatan yang parah, seluruh tubuh bisa menjadi lumpuh tak berdaya layaknya orang meninggal dunia.

Fakta tentang katapleksi

Berikut adalah beberapa poin penting tentang katapleksi:

1. Selama episode katapleks, seseorang sebenarnya sadar tetapi lumpuh sementara.

2. Katapleksi diperparah oleh kelelahan dan emosi yang kuat.

Hal itu mempengaruhi pria dan wanita secara setara.

3. Katapleksi terkait dengan narkolepsi (gangguan tidur), dan dapat terjadi setelah tiba-tiba menghentikan obat antidepresan.

4. Sodium oxybate disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) sebagai perawatan katapleksi.

Tertawa adalah pemicu paling umum serangan katapleksi.

Namun itu juga dapat disebabkan oleh kebahagiaan, kegembiraan, kejengkelan, kejutan, ketakutan, atau peristiwa yang membuat stres.

Kadang-kadang katapleksi disalahpahami sebagai kondisi medis lain termasuk stroke, multiple sclerosis, cedera kepala dan ensefalitis.

Durasi serangan katapleks bersifat singkat, umumnya berlangsung mulai dari beberapa detik hingga beberapa menit.

Biasanya kurang dari 2 menit dan diikuti dengan kembalinya fungsi otot-otot secara normal.

Penyebab

Dilansir dari Medical News Today, penyebab mendasar dari serangan katapleksi tidak diketahui, tetapi hypocretin dianggap sebagai faktor utama.

Hypocretin adalah neurotransmitter yang terlibat dalam mengatur siklus bangun/ tidur manusia.

Orang dengan katapleksi diketahui memiliki antigen leukosit tertentu, variasi dalam reseptor sel T, atau respons sistem kekebalan yang tidak berfungsi terhadap paparan antigen tertentu.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Investigation pada tahun 2010 mengungkapkan bahwa hilangnya hypocretin disebabkan oleh respons autoimun yang menargetkan autoantigen tribbles homolog 2 (trib 2) autoantigen.

Respon autoimun ini menyebabkan terbentuknya antibodi trib 2, yang menargetkan dan membunuh neuron di otak yang memproduksi hypocretin.

Frekuensi episode katapleksi bervariasi, bisa kurang dari sekali per tahun hingga beberapa kali per hari.

Rata-rata, seseorang yang mengidap katapleksi akan mengalami serangan kelumpuhan sekali atau lebih setiap minggunya. (*)

Sumber: TribunStyle.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved