Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Foto Penampakan 'Hujan' di Matahari, Samakah Seperti Hujan di Bumi?

Para ilmuwan NASA mendeteksi kemunculan "hujan plasma" mengalir di permukaan matahari

Tayang:
Editor: Irma Budiarti
NASA
(Ilustrasi) Badai matahari kelas X2,2 dan X9,3 terbentuk pada Rabu (6/9/2017). Foto Penampakan 'Hujan' di Matahari, Samakah Seperti Hujan di Bumi? 

TRIBUN-BALI.COM - Mungkinkah di matahari turun hujan?

Jika iya, apakah hujan di sana juga berupa tetesan air?

Pertanyaan ini akhirnya terjawab setelah para ilmuwan NASA mendeteksi kemunculan "hujan plasma" mengalir di permukaan matahari.

Hujan yang tentunya bukan berupa air itu akhirnya dapat menjelaskan mengapa atmosfer di permukaan matahari lebih panas dibanding permukaan bintang.

Kalau hujan di Bumi jatuh ke tanah berupa air, maka hujan di matahari bentuknya lebih mirip roda berputar dan berupa tetesan plasma panas yang jatuh dari atmosfer luar matahari (korona) ke bawah menuju permukaan bintang.

Meski memiliki bentuk berbeda, data baru yang dikumpulkan teleskop resolusi tinggi Solar Dynamics Observatory NASA menunjukkan bahwa hujan plasma di korona cara kerjanya mirip dengan hujan di Bumi, hanya ada beberapa pengecualian.

Baca: Satu Kamar Kos Terbakar Akibat Korsleting Listrik

Baca: Lebih Aman Pembalut atau Menstrual Cup? Ini Jawaban Dokter

Bedanya dengan hujan di Bumi, hujan plasma matahari memiliki suhu sangat panas yang mencapai jutaan derajat celsius.

Selain sangat panas, plasma merupakan gas bermuatan listrik dan dapat melacak garis-garis medan magnet atau loop yang muncul di permukaan matahari.

Melansir Space.com, Selasa (16/4/2019), para ahli menemukan bahwa suhu plasma bisa mencapai 1 juta derajat celsius.

Penampakan hujan di matahari.
Penampakan hujan di matahari. (KOMPAS.com)

Plasma super panas ini dapat memperluas area loop dan berkumpul di struktur puncak.

Ketika plasma mendingin, ia akan mengembun dan gravitasi menariknya ke bawah menciptakan hujan di korona.

Sebelumnya para ilmuwan terus mencari tanda tentang hujan korona dalam fitur lebih besar, loop-magnetik-loop alias helmet streamers yang membentang jutaan mil di permukaan matahari.

Baca: Berbaik Hatilah pada Diri Sendiri, Ini 6 Tips Bangkit dari Kegagalan dan Kekecewaan

Baca: AHY Belum Bisa Wujudkan Impian Ani yudhoyono yang Satu Ini, Kabarnya Terhalang Biaya yang Besar

Para peneliti menargetkan bidang itu karena meyakini helmet streamers merupakan salah satu sumber angin matahari lambat.

"Loop-loop ini jauh lebih kecil dibanding yang kami cari," ujar Spiro Antiochos, rekan peneliti sekaligus ahli fisika matahari dari Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA di Greenbelt, Maryland.

"Hal ini memberi tahu kami bahwa pemanasan korona jauh lebih lokal daripada yang kami pikirkan," imbuhnya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved