Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Bunker Bersejarah Melawan Penjajah, Ini Persembunyian dan Atur Siasat Kapten Mudhita

Di Desa Pengotan, Bangli dulunya erdapat sebuah bungker yang dipercaya menjadi tempat mengatur strategi dan persembunyian Kapten Muditha

Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Widyartha Suryawan
Tribun Bali/Fredey Mercury
Tugu Pahlawan di depan Pura Dalem Pengerubungan. 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Banjar Yoh, Desa Pengotan, Kecamatan Bangli dulunya dikenal sebagai basis perjuangan melawan penjajahan.

Di tempat ini terdapat sebuah bunker yang dipercaya menjadi tempat mengatur strategi dan persembunyian Kapten Muditha beserta pasukannya. Bungker itu berada di sekitar Pura Dalem Pengerubungan.

Pemangku pura, Jero Mangku Sofa mengatakan, saat ini sulit untuk menemukan lokasinya. Jika masuk ke bunker harus dilalui dengan merangkak. Sebab diameter lubang diperkirakan hanya selebar empat puluh sentimeter.

Meski demikian, Jero Mangku Sofa mengatakan semakin ke dalam ruangan di dalam bungker semakin luas.

“Letaknya berada di 60 meter arah barat daya dari Pura Dalem Pengerubungan. Ketika masih kecil saya kerap ke sana untuk mencari kelelawar. Namun untuk mencari dan masuk ke dalam bungker tersebut saat ini agak sulit karena sudah tertutup longsor. Namun jika masuk kurang lebih lebarnya dua meter dengan ketinggian yang sama. Di dalam cukup untuk duduk ukuran orang dewasa, serta mampu menampung puluhan orang,” jelasnya didampingi Kelian Adat Banjar Yoh, I Putu Wates.

Bungker itu juga dipercaya sebagai tempat persembunyian tokoh pahlawan asal Bangli, yakni Kapten Anak Agung Anom Mudita bersama sejumlah veteran lainnya.

Pura Dalem Pengerubungan dulunya bernama Pura Dalem Penghubung, di mana para veteran dari berbagai wilayah kabupaten menjadikan lokasi pura sebagai titik berkumpul dengan veteran di Bangli.

Banyar Yoh juga menjadi tempat Kapten Mudita untuk mengatur strategi. Kurang lebih selama tiga bulan Kapten Mudita tinggal di tempat ini hingga akhirnya mengambil sumpah dari seluruh veteran asal Desa Pengotan.

Sumpah itu dilakukan dengan menggunakan darah ayam hitam pengganti tinta untuk cap jempol.

“Sebelum beliau pulang ke Bangli (Penglipuran), pada malam harinya sempat digelar rapat besar-besaran. Saya lupa tanggalnya kala itu, namun menurut almarhum Nang Kaden (penglisir yang juga veteran) rapat digelar untuk melanjutkan perjuangan beliau. Semisal beliau (Kapten Mudita) meninggal, masyarakat di sini (Desa Pengotan) masih tetap melanjutkan perjuangan beliau," ujarnya.

"Kalau disini namanya bersumpah dan tergolong sacral. Setelah diambil sumpah, kata almarhum Nang Kaden keesokan harinya sekitar pukul 4.00 wita Kapten Mudita pulang ke Bangli. Namun tak lama berselang, terdengar kabar bahwa Kapten Mudita telah gugur setelah diserang oleh tentara Belanda,” sambung dia.

Nama Dalem Penghubung lambat laun berubah menjadi Dalem Pengerubungan. Jelas Jero Mangku Sofa berdasarkan penuturan para penglingsir, perubahan nama untuk mengayomi semua veteran yang pernah singgah.

Karena menjadi saksi sejarah masa perjuangan, dibangunlah tugu pahlawan didepan pura. Setiap 17 Agustus, dilakukan upacara bendera oleh pemuda-pemudi Desa Pengotan.

“Walaupun nantinya saya sudah tua dan tiada, generasi muda diharapkan tetap melakukan upacara memperingati perjuangan para leluhur dalam memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia,” tuturnya.

Kelian Adat Banjar Yoh, I Putu Wates berkeinginan kedepannya untuk kembali mengangkat sejarah di tempat tersebut. Mulai dari membersihkan hingga mendokumentasikan posisi bungker itu.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved