Kisah Mistis Dalang Calonarang Bali Kerap Ada “Ngetes”, Setelah Pentas yang Ngerjai Berakhir Begini

Karena berani ngundang leak, para dalang ini pun tak jarang “dites” oleh orang-orang memiliki ilmu hitam.

Kisah Mistis Dalang Calonarang Bali Kerap Ada “Ngetes”, Setelah Pentas yang Ngerjai Berakhir Begini
Kolase Tribun Bali/FB
Dalang Calonarang Dug Byor I Putu Gede Sartika yang akrab disapa Sangar. 

Sangar Tak Takut Diserang Leak

Leak Karangasem, Leak Klungkung, Leak Bangli, Leak Sanur, Leak Gianyar, Leak Ketewel, Leak Tegallalang, mai, mai, mai…… De anak sane ten ngelah pelih sakitine, ne dalange amah. Yen kanti buin telun dalange nu ngidang meangkian berarti sing ade leak dini (Leak, leak, leak datanglah, datanglah, datanglah. Jangan kau menyakiti orang yang tidak bersalah. Ini ada dalang, silakan makan. Kalau dalam tiga hari dalang ini masih hidup, berarti tidak ada leak di sini).”

Begitulah tantangan yang sering diungkapkan Dalang Calonarang Dug Byor setiap kali diundang untuk mementaskan wayang calonarang.

Ia tidak tanggung-tanggung mengundang dan menantang leak.

Bahkan, ia menyerahkan nyawanya untuk dijadikan tumbal saat pementasan.

Tidak hanya orang yang menguasai ilmu pengeleakan di daerah tempatnya pentas yang ia undang, tapi leak di seluruh Bali turut diundang untuk memakan dirinya.

Apakah dalang ini tak takut mati?

Selasa pekan lalu, Tribun Bali berkesempatan mewawancarai dalang calonarang yang sedang populer saat ini, yakni Dalang Calonarang Dug Byor, I Putu Gede Sartika, di rumahnya di Banjar Biya, Desa Keramas, Blahbatuh, Gianyar.

Sartika sebelumnya merupakan seniman bondres dengan nama Sangar, dan kini beralih profesi jadi dalang calonarang,

Pria berusia 37 tahun ini mengatakan bahwa momen ngundang leak saat pementasan wayang calonarang bukanlah ajang adu kesaktian.

Tetapi ia memiliki misi khusus untuk membuat masyarakat di tempatnya pentas lebih positive thinking terhadap keluarga, saudara, dan para tetangga.

“Makanya saya mengatakan dalam waktu tertentu kalau dalang masih hidup, berarti di daerah sana tidak ada leak. Sebab, zaman sekarang sedikit-sedikit orang sudah dicurigai bisa ngeleak. Pas kena masalah, ada tetangga melintas dicurigai bisa ngeleak, ada mertua melintas dicurigai bisa ngeleak. Jadi momen ngundang itu diharapkan bisa menghilangkan prasangka-prasangka buruk sehingga hubungan mereka baik antar saudara, dan masyarakat jadi harmonis,” tutur pria yang juga bernama Jro Mangku Dalang Samirana ini.

Sartika mengaku tidak pernah takut ketika suatu saat ada orang berilmu hitam yang ingin berbuat jahat atau jail.

Ia pun tak gentar mendapat serangan saat ngundang leak dalam pementasan.

Sebab, tujuannya adalah untuk ngayah dengan niat yang positif.

Menurutnya tidak menjadi dalang calonarang pun seseorang bisa mati, sebab kematian tersebut adalah pasti.

“Berbicara masalah kematian, walaupun tidak ngundang leak, kalau sudah takdir dan waktu sudah dipanggil oleh Sang Hyang Paramawisesa, ya kita harus ‘pulang’. Tidak mesti ngundang leak dalang itu meninggal. Sebenarnya ketakutan paranoid seperti itu kalau memang dasar ikhlas ngayah tidak ada rasa takut. Itu kalau saya pribadi,” ujar Sartika.

Dalam kehidupan masyarakat Bali, orang yang kebal santet, kebal cetik, dan segala ilmu hitam dianggap memiliki kesaktian tertentu, atau membawa bekal sesabukan, atau benda-benda keramat sebagai pelindung.

Lalu apakah Sang Dalang Calonarang Dug Byor ini membawa barang-barang tersebut?

Sartika mengaku tidak membawa sesabukan dan segala jenisnya saat mementaskan wayang calonarang.

Ia mengaku cuma bermodalkan doa kepada Tuhan dan meyakini kekuasaan Tuhan dalam ajaran Hindu disebut Tri Kona: Utpeti (Lahir), Stiti (hidup), Pralina (Mati).

“Maaf mengenai sesabukan, sesikepan, bebuntilan, dan lain sebagainya kalau saya pribadi mohon maaf saya tidak menggunakan itu. Keyakinan saya cuma satu Utpeti, Stiti, Pralina. Ya kita kembalikan ke Beliau. Dasarnya satu percaya pada Ida Sang Hyang Widhi cukup bagi saya. Sesabukan saya cuma nunas ica ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” jelasnya. (*) 

Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved