Begini Cerita Pengacara Untuk Membuat Auj-e Taqaddas Tenang Saat Dipindah Ke Kerobokan

Saat dibawa ke LP Perempuan Kerobokan, Taqaddas terlihat tenang dan tidak melawan seperti saat dijemput paksa di Lippo Mall Kuta.

Begini Cerita Pengacara Untuk Membuat Auj-e Taqaddas Tenang Saat Dipindah Ke Kerobokan
IST - Kejaksaan Negeri Badung
Auj-e Taqaddas (42) dijemput paksa oleh petugas Kejaksaan Negeri (Kejari) Badung dan pihak kepolisian, Rabu (6/2/2019) di Lippo Mall Kuta 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Auj-e Taqaddas mulai hari ini, Kamis (29/5/2019) harus menghuni di LP perempuan Kerobokan, Badung, Bali.

Sebelumnya, warga negara (WN) Inggris yang berkasus karena melakukan penamparan terhadap petugas imigrasi ini telah empat bulan dititipkan di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim), Denpasar.

Saat dibawa ke LP Perempuan Kerobokan, Taqaddas terlihat tenang dan tidak melawan seperti saat dijemput paksa di Lippo Mall Kuta.

Auj-e Taqaddas sendiri memang sudah lebih tenang dibandingkan dulu.

Menurut pengacaranya, Ivonia Juliani Veronica Purba, selama mendampingi terdakwa sejak masuk proses banding, Taqaddas diminta untuk lebih tenang agar permasalahan selesai dengan lancar.

Suasana eksekusi pemindahan Auj-e Taqaddas dari Rudenim ke Lapas Kerobokan, Rabu (29/5/2019)
Suasana eksekusi pemindahan Auj-e Taqaddas dari Rudenim ke Lapas Kerobokan, Rabu (29/5/2019) (Tribun Bali / Rino Gale)

“Saya ajak kalau mau saya bantu ya harus nurut. Dalam artian harus mengikuti aturan hukum di Indonesia dengan tenang. Awalnya saya dihubungi langsung dari pihak keluarga di Australia sendiri bukan karena konsulat. Saya terdaftar di konsulat yang berbeda dan terdaftar di konsulat Amerika. Namun pihak keluarganya yang berinisiatif menghubungi saya," jelasnya.

Pendampingan dilakukan melalui telepon, email dan juga melalui perantaranya dengan konsulat.

“Jadi saya mengerjakan kasus ini dengan mengecek berkas-berkas terdahulu. Lalu saya hubungkan pasal-pasal hukumnya yang mana perlu saya masukan ke dalam memori bandingnya itu,” papar Ivonia.

Ivonia pun memberikan penjelasan tentang bagaimana Taqqadas harus menghadapi hukumannya di Indonesia.

"Selama dalam pendampingan, saya menjelaskan hukum di Indonesia itu seperti apa. Karena dia sendiri juga perlu info hukum. Karena hukum di negaranya berbeda dengan Indonesia. Jadi info hukum itulah yang bisa membuat dia mengetahui dan bisa menerima letak keselahanya. Dia sendiri juga menulis di memorinya bahwa dia mengakui kesalahannya dan saya juga ada pasal untuk memori bandinya. Jadi sekarang masih masa isolasi," tutupnya.

Halaman
12
Penulis: Rino Gale
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved