Parasite: Pergulatan Menerobos Batas Imajiner
Film Parasite belakangan ini terus menjadi bahan perbincangan, tidak hanya di kalangan pegiat sinema senior, anak-anak mudapun tidak mau ketinggalan
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Irma Budiarti
TRIBUN-BALI.COM - Film Parasite belakangan ini terus menjadi bahan perbincangan, tidak hanya di kalangan pegiat sinema senior, anak-anak mudapun tidak mau ketinggalan.
Terlebih ketika sutradara ternama Joko Anwar menyatakan Parasite adalah karya jenius dari orang yang jenius.
Bali termasuk beruntung cepat mendapat giliran merasakan ‘kemewahan’ menonton film ini.
Hanya berselang satu bulan sejak Parasite dinobatkan akhir Mei 2019 lalu di Perancis sebagai pemenang The Palme d'Or dalam the Cannes Film Festival.
Kejeniusan apa sesungguhnya yang ditawarkan film garapan Bong Joon-ho ini sehingga berhasil menembus posisi sebagai film pertama Korea yang menyabet penghargaan paling bergengsi dalam industri perfilman?
Dalam sebuah tayangan video press conference yang diunggah akun resmi Festival de Cannes, Bong Joon-ho mengungkap kali ini dia mencoba menabrak batas-batas konvensional.
“Saya suka dengan cara-cara konvensional yang sudah ada sejak bertahun-tahun. Tapi pada saat yang bersamaan, I want to break it dan inilah hasilnya,” tegasnya.
Baca: Perempuan Pembawa Perubahan - Viebeke Lengkong Puluhan Tahun Menjadi Aktivis Sosial
Baca: News Analysis: Sistem PPDB Kayak Lomba Lari
Parasite hasil pertempuran yang terjadi dalam pikiran dan insting Bong Joon-ho.
Rasanya tidak berlebihan kita katakan film ini adalah sebuah pergulatan menerobos batas imajiner manusia.
Menerabas hal-hal linier yang seringkali berujung pada satu kesimpulan normatif, dianggap sebagai kebenaran hanya karena bersumber dari suara kebanyakan.
Bong berhasil memutar balik logika umum, menyajikan kisahan yang tak tertebak.
Apa yang dibayangkan penonton akan terjadi pada adegan-adegan selanjutnya, justru sama sekali tidak dihadirkan oleh sang sutradara.
Agaknya bagi dia, bukan ujung hasil itu yang terpenting, melainkan jauh lebih esensi mengedepankan proses, bagaimana pergulatan perasaan dan emosi setiap karakter dalam menghadapi kondisi apapun yang menimpanya.
Dari komedi, drama, seketika melompat pada persoalan politik, dan tragedi.
Baca: Badung Gelontorkan Rp 19 M untuk Taman Puspem, Tata Ulang Pintu Utama dan Bangun Kolam
Baca: Rebutkan 324 Kursi SMA Negeri 4 Denpasar, Hari Kedua Sudah Ada 1.260 Pendaftar
“Sama dengan kehidupan ini, kita memang kadang melompat seketika dari satu hal ke hal lain. Kita kadang merasa sedih, lalu seketika bahagia, cemas.”
Begitu kata Bong yang dinobatkan sebagai Sutradara Terbaik dalam International Cinephile Society Cannes Award 2019.
Wilayah Abu-abu
Parasite mengisahkan satu keluarga miskin yang tinggal di sebuah semi-basement nan sempit dan kumuh.
Namun garis nasibnya berubah ketika suatu saat Kim Ki-woo (Choi Woo-shik) anak laki-laki tertua Kim Ki-taek (Song Kang-ho), mendapat tawaran dari temannya untuk bekerja mengajar Bahasa Inggris putri Tuan Park, keluarga kaya raya.
Meski tidak menyandang gelar sarjana, dengan sedikit tipuan dokumen, atas dorongan temannya, Ki-woo memberanikan diri menerima tawaran itu.
“Ini bukan kriminalitas, aku hanya mencetak ijazah ini lebih awal. Suatu saat aku akan studi di sana.”
Begitu Ki-woo menanggapi ijazah palsu yang dibuatkan adiknya, seolah ia ingin berkata, aku boleh miskin, tapi dilarang keras untuk bodoh.
Baca: Nyawa Jro Mahayoni Berakhir di Tangan Suami, Jro Mangku Sumerta Tikam Perut Istri Diduga Sakit Hati
Baca: Arta Cuti Kerja Demi Pendidikan Anaknya, PPDB Jalur Zonasi dan Suka Duka Orangtua
Dari sanalah kebohongan demi kebohongan yang disusun begitu rapi dan cerdas dibangun satu per satu.
Tipuan demi tipuan akhirnya mengantarkan seluruh anggota keluarga Ki-woo bisa bekerja di rumah Tuan Park.
Kepada Tuan Park, mereka tidak mengenalkan diri sebagai satu keluarga, melainkan hanya hubungan lingkaran pertemanan.
Niatan awal sederhana, setidaknya mendapat pekerjaan dan bisa memperbaiki atau setidaknya hidup. Berhenti menjadi pelipat kotak pizza yang dibayar tak seberapa.
Mungkin kita akan berpikirkan, barangkali ini yang dimaksudkan oleh sang sutradara dengan Parasite, dari niat baik, namun karena tergoda harta, akhirnya terus menempel hingga pada akhirnya akan menguasai seluruh harta.
Barangkali itu ending cerita yang ada dalam benak penonton.
Dalam setiap adegan yang dibangun, seolah Bong Joon-ho ingin mengantar penonton untuk bersama-sama menahan cemas dan saling tebak menebak kapan dan bagaimana akhirnya tipuan keluarga miskin itu akan terbongkar.
Bagaimana nasib mereka jika akhirnya ketahuan melukai kepercayaan keluarga yang meski berlimpah harta, namun berhati mulia itu.
Baca: Wali Kota Tambah Kuota Jalur Zona Kawasan, Tak Lagi Sistem Cepat-Cepatan, Tapi Pakai NEM
Baca: Coret Siswa Bertato dan Bertindik, PPDB SMKN 1 Denpasar Wajibkan Peserta Tak Buta Warna
Di sinilah kejeniusan Bong Joon-ho. Joko Anwar menyebutnya sebagai film yang menggunakan otak dan hati.
Hingga akhir cerita, tak ada satupun adegan yang menggambarkan bagaimana tipuan keluarga miskin ini akhirnya terbongkar oleh Tuan Park dan istrinya.
Walau sebenarnya banyak sekali ketegangan-ketegangan yang mengarah ke sana.
Ternyata bukan hal-hal teknis seperti itu yang penting bagi sang sutradara. Bukan tentang siapa yang salah atau siapa yang benar.
Bukan tentang siapa yang jahat dan siapa yang baik. Dia menyadari selalu ada ruang abu-abu dalam hal apapun.
Menurut Bong, di sinilah kekuatan insting seorang sutradara dipertaruhkan.
“Sutradara hanya punya insting, itu kitab saya. Berbeda dengan ahli hukum yang memiliki buku panduan khusus. Jika di lapangan kurang puas, saya pulang dan menonton film-film para mentor.”
Kemanusiaan dan Manusia
Persoalan manusia dan sosial kemanusiaan yang paling pelik dan kerap kali sengaja diluputkan, dimunculkan oleh Bong dengan cara yang ringan.
Satir yang elegan, humor dengan tingkat intelektual yang tinggi.
Baca: Bali United vs Perseru Badak Lampung FC, Teco Senang Stadion Penuh: Bagus Untuk Semangat Kedua Tim
Baca: 39 Toko Modern Belum Urus Izin, Satpol PP Badung Ancam Tutup Paksa Toko Bodong
Misalkan saja sebuah jendela. Bagi keluarga miskin ini, pemandangan jendela yang ia saksikan sehari-hari adalah tempat kencingnya para pemabuk tengah malam.
Namun bagi keluarga kaya, jendela adalah ruang untuk menikmati kemewahan hijau taman.
Saat hujan tiba, keluarga kaya bisa “berkemah” di halaman rumah dan menikmati puitisnya rintik itu.
Tapi bagi keluarga Kim, hujan adalah petaka yang menghanyutkan seisi rumah.
Begitu pula dengan simbol-simbol lainnya. Ia menggunakan istilah-istilah tertentu untuk mengkritisi betapa besarnya jarak antara si miskin dan si kaya.
Mereka menyebut kalangan bawah dengan orang-orang yang baunya seperti lobak basi, bau khas kalangan yang naik kereta bawah tanah.
Kecanggihan dan propaganda sebuah perangkat smart phone tak luput dari perhatian Bong.
Ia menyematkan adegan dimana Wi-Fi kini ibarat Dewa yang menyambung hidup rakyat kecil.
Betapa kini tombol “kirim” pada perangkat itu ibarat tombol rudal buatan Korea Utara yang dalam seketika bisa menghancurkan apapun.
Begitu pula dengan barang-barang buatan Amerika Serikat yang diklaim adalah produk terbaik dan dijamin kualitasnya.
Negara yang seakan menjadi kiblat semua orang. Bong juga menghadirkan kehidupan orang-orang bunker yang ternyata adalah bagian yang eksis dalam masyarakat Korea.
Dalam bunker itulah mereka bertahun-tahun mendekap dalam kegelapan, bersembunyi dari maut.
Sebagaimana semangat Bong untuk menerobos batas-batas yang ada, film ini pun tidak bisa dikotak-kotakan hanya dalam kategori tertentu.
Apa yang dikaryakan Bong melampaui sekat-sekat yang ada. Berbahagialah kita mendapat siraman karya seni dari seorang maestro yang semoga turut memecut sisi kreatif dalam diri untuk lebih berani dan ‘liar’ mencipta dan lebih memanusiakan sisi kemanusiaan kita. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/parasite-pergulatan-menerobos-batas-imajiner.jpg)