Ngopi Santai

Pembeli Pun Bisa Berlari-lari

Perilaku kaum milenial yang unik pun mengguncang dunia kerja. Hari gini jangan lagi tuan dan puan bayangkan mereka mau rutin masuk kantor pukul 08.00

Pembeli Pun Bisa Berlari-lari
Pixabay/HutchRock
Ilustrasi belanja online. Ciri perilaku milenial adalah lebih doyan berbelanja via online dan tak lagi getol berburu barang, mereka justru banyak mengonsumsi pengalaman (leisure). 

Setidaknya sejak dua tahun terakhir pengunjung department store di seluruh dunia termasuk di Indonesia seperti Ramayana, Matahari Lotus secara pelan tapi pasti mulai bertumbangan. Jumlahnya tak serimbun masa lalu.

Musababnya adalah milenial yang bergeser perilaku dan preferensinya tadi. Ciri perilaku milenial adalah lebih doyan berbelanja via online dan tak lagi getol berburu barang, mereka justru banyak mengonsumsi pengalaman (leisure).

Anak saya yang berusia 19 tahun, saat mengisi liburan kuliah baru-baru ini minta ongkos bukan untuk belanja barang, makan-makan atau nonton film. Tapi untuk jalan-jalan ke berbagai destinasi menarik di Pulau Timor bersama kawan-kawannya. Mereka memburu spot yang instagramable.

Cuma makan nasi bungkus pun mau. Kulitnya terpanggang matahari bukan masalah besar. Sebelumnya, saat liburan tengah semester dia pun jalan-jalan ke bumi Parahyangan. Begitu ceria dan penuh semangat menjelajahi beragam spot menarik di Jawa Barat.

Jadi kaum milenial tak gandrung amat main ke mal hari-hari belakangan. Kalaupun ke sana mereka toh sekadar cuci mata, nongkrong dan mencari suasana berbeda guna mengusir kejenuhan.

Tak berbeda dengan cabang olahraga golf. Popularitas golf mencemaskan . Sebuah survei menemukan fakta hanya 5 persen kaum milenial yang menekuni golf.

Dalam satu dekade terakhir semakin sedikit penonton yang menyaksikan event golf dunia. Jauh berkurang misalnya jika dibandingkan pada masa keemasan pegolf Amerika Serikat berdarah Thailand, Tiger Woods di era 2000-an.

Dampak kesunyian golf merebak ke mana-mana. Pada tahun 2016 raksasa produsen perlengkapan olahraga Adidas menjual sebagian besar bisnis perlengkapan golfnya karena terus-menerus merugi. Pihak Adidas menyatakan ingin fokus pada bisnis sepatu dan pakaian olahraga saja.

Sebenarnya sejak Agustus 2015, perusahaan asal Jerman tersebut meluncurkan tinjauan bisnis golfnya. Sebagai pemasok perlengkapan golf terbesar dunia, Adidas sungguh merasakan dampak buruk dari makin tidak populernya olahraga elit ini (Kompas.com, 6/5/2016, 15:00).

Perilaku kaum milenial yang unik pun mengguncang dunia kerja. Hari gini jangan lagi tuan dan puan bayangkan mereka mau rutin masuk kantor pukul 08.00 pagi dan pulang ke rumah pukul 17.00. Mereka sungguh tak betah terikat pada sistem semacam itu.

Halaman
123
Penulis: DionDBPutra
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved