Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Selamatkan Sawah dari Serangan Tikus, Warga Desa Senganan Lestarikan Burung Hantu Tyto Alba

Tyto Alba merupakan hewan yang dimanfaatkan sebagai pembasmi organisme pengganggu tanaman (OPT) yakni tikus.

Tayang:
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Widyartha Suryawan
Tribun Bali/Made Prasetia Aryawan
Banjar Pagi, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan terkenal dengan pelestarian burung hantu jenis Tyto Alba. Tyto Alba sendiri merupakan hewan yang difungsikan sebagai pembasmi organisme pengganggu tanaman (OPT) yakni tikus. 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Banjar Pagi, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan memang terkenal dengan pelestarian burung hantu jenis Tyto Alba.

Tyto Alba merupakan hewan yang dimanfaatkan sebagai pembasmi organisme pengganggu tanaman (OPT) yakni tikus. Dengan metode ini, kecendrungan serangan hama pun menjadi berkurang.

Jumlah populasi burung hantu ini terus meningkat karena dikembangkan oleh Kelompok Konservasi Burung Hantu Tyto Alba Umawali Untuk Tani (TUWUT). Kelompok tersebut dinahkodai oleh I Made Jonita.

Jonita menuturkan burung hantu jenis Tyto Alba ini merupakan hewan pembasmi atau pemburu hama tikus yang kerap menyerang persawahan di Tabanan.

Setidaknya sudah ada lebih dari sepuluh pasang burung hantu yang dikonservasi. Selain itu juga kerap dilepasliarkan di alam bebas untuk menjaga lahan pertanian di Tabanan khususnya Penebel.

"Kami juga kerap melepasliarkan burung hantu ini di beberapa subak di Tabanan. Burung yang dilepas ini biasanya berusia 5-8 bulan," ujar pria yang akrab disapa Dek Enjoy ini.

Jonita menerangkan, tujuan dari konservasi adalah agar burung tak mudah punah dan pelepasanliaran burung ini adalah untuk membantu petani membasmi hama tikus yang kerap menyerang tanaman padi dan mengakibatkan gagal panen.

"Sehingga dengan begitu (pelepasan burung hantu), hama tikus di sawah akan lebih terkendali dan para petani tidak lagi mengalami gagal panen karena serangan hama tikus ini," terangnya.

Dia menuturkan, burung hantu ini awalnya diambil dari anakan yang sudah menetas di alam liar atau sekitar pemukiman. Kemudian setelah itu dilakukan perawatan, pelatihan, dan kemudian dilepas.

Burung hantu ini dinilai sangat efektif untuk menekan keberadaaan hama tikus. Pasalnya, satu pasang burung hantu mampu membasmi hama tikus dengan luas 10 hektare sawah.

hal tersebut terbukti dengan hasil panen yang awalnya hanya 10 persen saja, meningkat menjadi 80 persen dengan adanya burung hantu.

“Sudah kami buktikan, burung hantu sangat efektif karena dalam hitungan empat bulan saja, hasil panen bisa menjadi 80 persen yang dari awalnya hanya bisa panen 10 persen saja,” ungkapnya.

Sebelumnya, Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikulturan (BPTPH) Provinsi Bali, I Nyoman Suastika menerangkan tikus merupakan salah satu OPT padi.

Selama lima tahun terakhir ini, serangan tikus rata-rata tiap tahunnya menyerang 900 hektare lebih lahan pertanian dari 80 ribu hektare lahan pertanian yang tersebar di Provinsi Bali.

Upaya ini (burung hantu) merupakan salah-satua pemanfataan musuh alami yakni burung hantu untuk menekan angka penurunan hasil produksi.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved