Ngopi Santai

Si Bening yang Bersemayam di Perut Raja Laut

Tiba-tiba tergelitik, mengapa Indonesia atau Bali tidak meniru langkah negeri Afrika tersebut? Larang penuh penggunaan kantong plastik sekali pakai.

Si Bening yang Bersemayam di Perut Raja Laut
Tribun Bali/Rizal Fanany
Sejumlah pemulung memungut sampah plastik di Pantai Kedonganan, Badung, Sabtu (26/1). Sampah musiman ini memberi keuntungan bagi pemulung yang bisa mengumpulkan sampah plastik 70 kilo per hari 

SEPERTI hari-hari yang telah berlalu, di pagi yang cerah itu saya bersua lagi pria paruh baya yang energik di lapak sayur.

Baju kausnya masih basah oleh keringat. Wajahnya berbinar. Ramah menyapa. Dia baru saja joging selama kurang lebih 45 menit mengitari kawasan perumahan.

Sebelum pulang ke kediamannya, dia mampir di lapak sayur yang letaknya tak jauh dari tempat kosku.

“Selamat pagi Pak, wah baru selesai joging ya?” sapaku padanya. Dia menjawab salamku sambil menebarkan senyum. Pak Dirman memang punya kebiasaan menawan. Dia rajin berolahraga serta mau belanja kebutuhan rumah tangga, sesuatu yang tidak banyak dilakoni kaum pria semacam saya.

Sekurang-kurangnya dua atau tiga hari sekali dia belanja sayur mayur, ikan, daging, bumbu dapur dan aneka kebutuhan lainnya di lapak tersebut.

“Bagi tugas dengan istriku. Maklum dia pagi-pagi sekali harus ke kantor, sedangkan waktu kerja saya lebih luwes, bisa atur sendiri,” kata pria berusia 52 tahun asal Jawa Tengah yang wiraswasta ini.

Kebiasaan lainnya adalah dia selalu membawa tas kain dari rumah untuk mengisi semua belanjaannya. Tak pernah sekalipun saya lihat dia meminta tas kresek (plastik) kepada pemilik lapak sayur. Tas kain so pasti bisa dipakai berkali-kali. Bukan cuma sekali lalu berubah menjadi sampah.

“Saya dan istri pakai tas kain untuk isi belanjaan begini sejak lima tahun lalu. Jadi lebih dulu dari Peraturan Gubernur Bali. Kami terinspirasi saat melawat ke negeri Kanguru,” kata Dirman yang sudah 21 tahun tinggal di Denpasar. Yang dia maksudkan adalah Peraturan Gubernur (Pergub) Bali No. 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbunan Plastik Sekali Pakai.

Peraturan itu sudah berlaku di seluruh Bali sejak penghujung 2018 dan meraih apresiasi positif masyarakat termasuk masyarakat dari luar Bali dan mancanegara. Saya yang belum lama menghuni Pulau Dewata ini masih gagap. Ke minimarket, mal, kios dan pasar masih saja lupa bawa tas yang bisa dipakai berulang. Ini karena kebiasaan mengelola sampah tidak tertanam sejak bocah dan di tempat asalku belum ketat berlaku aturan serupa itu.

Ya, Provinsi Bali tergolong lebih maju merespons kampanye nasional mengurangi sampah plastik di ini negeri. Bali lekas mengeksekusi melalui kebijakan lokal dibandingkan dengan provinsi lain, sebut misalnya tetangganya Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Ketika daerah lain masih omong -omong, Bali sudah mulai beraksi.

Halaman
1234
Penulis: DionDBPutra
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved