3 Kasus Bule Lecehkan Tempat Suci di Bali yang Viral Dua Tahun Belakangan Ini

Belakangan ini viral sepasang bule atau Warga Negara Asing (WNA) yang dianggap melecehkan tempat suci di Ubud.

Penulis: Putu Supartika | Editor: Ady Sucipto
@sabrina
pelecehan yang dilakukan kedua turis macanegara ini, ialah seorang turis pria membasuh b*k*ng turis wanita, menggunakan air yang mengucur dari sebuah pelinggih yang disucikan umat Hindu. 

 
 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Belakangan ini viral sepasang bule atau Warga Negara Asing (WNA) yang dianggap melecehkan tempat suci di Ubud.

Video sepasang turis mancanegara yang melakukan pelecahan di Monkey Forest, Desa Padangtegal, Kecamatan  Ubud, Gianyar, Bali menjadi viral di media sosial.

Video itu diunggah oleh turis asal Rusia, Sabina Dolezalova, dalam akun Instagramnya @sabina_dolezalova_ifbb.

Dalam video itu terlihat si turis wanita bercanda dengan pasangannya Zdenek Slouka.

Zdenek menggunakan air suci yang mengucur dari pelinggih untuk membersihkan bagian pantat Sabina.

Sebelum kejadian ini, sebenarnya beberapa kejadian serupa pernah terjadi di beberapa pura.

Berikut rangkuman Tribun Bali terkait bule lecehkan tempat suci di Bali dua tahun belakangan ini.

Seorang bule nampak duduk di padmasana Pura Gelap Besakih, Karangasem.
Seorang bule nampak duduk di padmasana Pura Gelap Besakih, Karangasem. (net)

1. Bule Naik Padmasana di Pura Gelap Besakih

April tahun 2018 lalu di media sosial viral video seorang bule lelaki naik ke pelinggih Padmasana dan duduk di rong Padmasana tersebut.

Bule yang diketahui bernama Bernat tersebut naik di Padmasana Pura Gelap Besakih, Karangasem.

Kejadian itu diprediksi dilakukan oleh bule tersebut saat Gunung Agung dalam kondisi awas.

Menanggapi hal tersebut, Ketua PHDI Provinsi Bali, Prof. Dr. I Gusti Ngurah Sudiana mengatakan bahwa larangan tamu masuk ke dalam pura sebenarnya sudah ada sejak dulu.

Akan tetapi hal tersebut kurang ditanggapi secara serius.

"Itu dah kalau kita berikan tamu masuk ke pura pasti akan ada kejadian aeperti ini. Kan dari dulu kita sudah menghimbau jangan dikasi tamu masuk ke pura, sampai kita PHDI berkelahi dengan guidenya waktu itu di Besakih," kata Sudiana ketika dihubungi Rabu (18/4/2018) siang.

Ia menambahkan, jika tamu diberikan masuk ke pura pasti akan ada kejadian yang disengaja maupun tidak yang menodai kesucian pura.

"Kita Parisadha sampai berbusa menghimbau, bahkan pemerintah juga sudah. Jangab dikasi masuk pura kalau bukan untuk sembahyang. Kalau di luar negeri motret pura dari dalam aja tidak boleh," imbuhnya.

Ketika itu Sudiana mengatakan, di Besakih seakan ada pembiaran tamu masuk pura.

Akan tetapi saat dirinya di sana, tak ada yang berani mengajak tamu masuk ke dalam pura.

Ketika dirinya sudah pergi tamunya diberikan masuk ke dalam pura.

"Nah sekarangan kalau sudah ada kejadian seperti ini siapa yang disalahkan? Mau mereka yang jadi guide bertanggung jawab? Kan yang bertanggung jawab akhirnya pengempon pura yang akan capek," katanya.

Akan tetapi dirinya berharap agar Umat Hindu tidak mudah emosi menanggapi hal ini.

"Atas kejadian ini saya mohon Umat Hindu tidak terpancing emosinya. Siapa tahu ini rekayasa dari media. Kan sekarang gampang merekayasa. Kalau terpancing emosinya, kita akan dibuat capek seperti ini terus," pintanya.

Beberapa hari kemudian bule tersebut lewat akun IG miliknya @bernatporelmundo ia menyampaikan permintaan maaf. 

Dalam videonya yang berdurasi 41 detik ia menyampaikan permintaan maafnya kepada masyarakat Bali, khususnya yang beragama Hindu.

Permintaan maafnya ini diunggah Rabu (18/4/2018) sekitar pukul 16.00 Wita.

Dalam video yang menggunakan bahasa campuran Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Bali, ia mengatakan: "Sorry for balinese, that things that i did, i wanna say in balinese, i wanna try. Niki tiang  Bernat bule yang  naik ke Padmasana, saya minta maaf kepada Umat Hindu se- Bali karena saya benar tidak mengetahui, tidak boleh naik ke Padmasana. Saya benar-benar tidak tahu aturannya. Tiang nunas sinampura sebesar-besarnya. Om Shanti, Shanti, Shanti Om."

2. Bule Naik Pelinggih di Pura Batukaru

Foto seorang bule naik ke pelinggih di Pura Batukaru. Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Tabanan viral di media sosial pada Rabu (12/9/2019).

Bule asal Finlandia itu bernama Jarvi Tony Kristian (37) asal Finlandia.

Setelah mengetahui dirinya dicari pihak kepolisian, ia menyerahkan diri ke Mapolsek Denpasar Selatan.

Tony didampingi temannya, Jouni Kalevi (50), kemudian dibawa ke Polres Tabanan, Sabtu (15/9/2018) sekitar pukul 21.00 Wita.

Tony pun mengakui kesalahannya dan minta maaf.

Ia pun siap untuk mengeluarkan dana sebesar Rp 15 juta untuk menggelar upacara guru piduka.

Dan pada Senin (17/9/2018) ia mengikuti upacara guru piduka di Pura Batukaru.

Terkait kasus ini, Jro Mangku Kabayan tidak sepenuhnya menyalahkan Tony.

Menurutnya, kemungkinan tidak ada niat buruk dari Tony, tapi karena melihat view bagus dan ketidaktahuannya membuat kejadian ini terjadi.

“Terlebih lagi, letak pura yang berada sekitar 100 meter dari areal utama Pura Luhur Batukaru  sehingga lepas dari pengawasan,” katanya.

Sabina Dolezalova dan Jdenek Slova, dua WNA yang lecehkan petirtaan suci di Monkey Forest, Ubud, Bali.
Sabina Dolezalova dan Jdenek Slova, dua WNA yang lecehkan petirtaan suci di Monkey Forest, Ubud, Bali. (Tribun Bali / I Wayan Eri Gunarta)

3. Pelecehan Petirtaan di Petirtaan Monkey Forest Ubud

Agustus 2019 ini video sepasang bule yang melecehkan tempat suci kembali viral.

Video sepasang turis mancanegara yang melakukan pelecahan di Monkey Forest, Desa Padangtegal, Kecamatan Ubud, Bali menjadi viral di media sosial.

Video itu diunggah oleh turis asal Rusia, Sabina Dolezalova, dalam akun Instagramnya @sabina_dolezalova_ifbb.

Dalam video itu terlihat si turis wanita bercanda dengan pasangannya Jdenek Slova.

Zdenek menggunakan air suci yang mengucur dari pelinggih untuk membersihkan bagian bokong Sabina.

Atas video yang menimbulkan kontra ini, pasangan turis itu akhirnya meminta maaf.

Dalam mediasi Sabina Dolezalova dan Jdenek Slova bersama  dengan Kantor Migrasi Kelas I TP Denpasar, Polsek  Ubud, Prajuru Desa Padangtegal, dan DPD RI, I Gusti Ngurah Arya Wedakarna, di sekretariat objek wisata Monkey Forest  Ubud, Senin (12/8/2019) kasus ini tak dilanjutkan ke jalur hukum.

Walaupun deminikan bule asal Republik Ceko ini harus menghadiri upacara pecaruan dan Guru Piduka di pancuran Pura Beji Monkey Forest Padangtegal, tempat mereka melakukan tindakan tak terpuji.

Atas kejadian tersebut kawasan pancuran suci itupun ditutup untuk wisatawan, yang sebelumnya, lokasi tersebut merupakan salah satu spot foto wisatawan di obyek wisata kera ekor panjang. (*)

 

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved