11 Orang Membicarakan Ramayana dari Berbagai Aspek di Pura Jagatnatha Denpasar

Rembug ini sekaligus untuk merayakan ulang tahun ke-36 Rembug Sastra Purnama Badrawada ini.

Penulis: Putu Supartika | Editor: Eviera Paramita Sandi
Tribun Bali / Putu Supartika
Pelaksanaan Rembug Sastra Purnama Badrawada di Pura Jagatnata Denpasar 

Mencoba menjawab permasalahan ekologi saat ini, Eriadi Ariana, menafsirkan Kakawin Ramayana dalam aspek konservasi alam dalam tulisan berjudul Tentang Hutan, Pertanian, dan Laut: Konservasi Ekologi dalam Kakawin Ramayana.

Sementara, dari sisi teknologi, Dharma Wibawa Aryana mencoba menjejak keberadaan alat transportasi era Ramayana dalam makalah berjudul Wilmāna: Teknologi Transportasi yang Hilang dari Kakawin Ramayana.

Thomas Hunter mengungkapkan apresiasinya pada rembug yang konsisten mengungkap bagian terdalam kebudayaan Bali ini.

Ia berharap ke depan diskusi dapat terus berlanjut.

"Dengan gerakan literasi semacam ini kita bisa membangkitkan masyarakat yang lebih dalam pengertiannya pada kebudayaan dan sejarah kebudayaan. Ini penting, jangan sampai diabaikan. (Sebab) kita menghadapi zaman sekarang yang ada masukan baru, seprrti elektronik dan teknologi. Kebudayaan Bali sebagai sumber pengetahuan jangan sampai diabaikan, apalagi ada angkatan muda yang berbakat dalam kebudayaan ini," katanya.

Pandangan tak jauh berbeda diungkapkan Windhu Sancaya. Menurutnya, studi Jawa Kuno perlu digalakkan kembali untuk mengimbangi kemajuan zaman. Pihaknya percaya apa yang terkurung dalam sastra Jawa Kuno dapat dikembangkan menunjang kemajuan bangsa.

"Saat ini Israel belajar Jawa Kuno. Mengapa? Poerbatjaraka mengimbau kita untuk kembali ke (sastra) Jawa Kuno. Untuk studi hal pertama yang harus digarap adalah mengetahui bahasa, kemudian memberikan interpretasi yang paling tepat," ucapnya.

Lahirnya beragam interpretasi atas uraian sastra tersebut harus didiskusikan. Upaya pencapaian interpretasi tepat dan terbaik harus melalui proses dialektika , tidak bisa monolog.

"Harus dibicarakan secara terus menerus. Karena keberanaran itu masih koma, harus dibicarakan harus ada kalabilitas, harus ada guna," tutupnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved