Simpang Ring Banjar

Banjar Sarimertha Jadi Sentra Kerajinan Batok Kelapa, Ekspor Produk Hingga Perancis dan Australia

Banjar Sarimertha di Desa Negari, Banjarangkan, Klungkung, Bali, dikenal dengan sentra industri kerajinan batok kelapa

Banjar Sarimertha Jadi Sentra Kerajinan Batok Kelapa, Ekspor Produk Hingga Perancis dan Australia
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Banjar Sarimertha di Desa Negari, Banjarangkan, Klungkung, Bali, dikenal dengan sentra industri kerajinan batok kelapa. Banjar Sarimertha Jadi Sentra Kerajinan Batok Kelapa, Ekspor Produk Hingga Perancis dan Australia 

Banjar Sarimertha Jadi Sentra Kerajinan Batok Kelapa, Ekspor Produk Hingga Perancis dan Australia

TRIBUN-BALI.COM, KLUNGKUNG - Banjar Sarimertha di Desa Negari, Banjarangkan, Klungkung, Bali, dikenal dengan sentra industri kerajinan batok kelapa.

Awal mula berkembangnya sentra industri kerajinan batok kelapa ini dimulai tahun 1997 silam.

Diprakarsai dari tangan terampil warga setempat, I Gede Suryawan.

Sebelum menekuni kerajinan batok kelapa dan berkembang pesat di Banjar Sarimertha, Gede Suryawan sudah mencoba berbagai usaha, mulai dari bisnis ternak ayam, itik,  jualan telor, hingga ternak babi. Tapi semua gagal.

"Mulai saat itu, saya mulai berpikir untuk melirik suatu usaha kreatif yang modalnya relatif murah, dan dapat menghasilkan rupiah yang lebih. Intinya saat itu modal saya tekad dan nekat untuk usaha," ujar I Gede Suryawan, owner Yande Batok Kelapa belum lama ini.

Pilihan I Gede Suryawan saat itu jatuh pada buah kelapa. Pada awalnya, ia berpikir untuk mulai membuat kerajinan kancing baju menggunakan batok kelapa.

Dengan modal awal sebesar Rp 500 ribu, ia pun mulai menjalankan bisnisnya tersebut bersama sang adik.

Sejak awal, Suryawan tetap mengandalkan buah kelapa lokal yang ia dapatkan dari Sulang maupun Gunaksa, Klungkung.

"Saya mulai menggantungkan hidup dari buah kelapa sejak tahun 1997. Saat itu harga kelapa Rp 1.000 dapat 3 buah. Mulailah saya dan adik membuat usaha kancing baju dengan batok. Pada awalnya semuanya belum berjalan mulus, butuh waktu 7 bulan untuk mengenalkannya ke masyarakat, dan mulai mencoba mempelajari membuat berbagai kerajinan dengan batok kelapa," ungkap I Gede Suryawan.

Halaman
123
Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved