Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Kisah dr. Dudut Rustyadi, Dari Insiden Bom Bali Hingga Disebut Dokter Mayat

Siapa sangka Dudut yang dikenal sebagai pria yang menyenangi dunia forensik ini, saat kecil tak terbersit untuk menjadi seorang dokter.

Penulis: M. Firdian Sani | Editor: Eviera Paramita Sandi
Istimewa/Humas RSUP Sanglah
Tim Instalasi Forensik RSUP Sanglah tengah membersihkan jenazah terlantar sebelum menjalani kremasi massal 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tahun 2019 adalah tahun ke-17 bagi seorang dr. Dudut Rustyadi bertugas di Bali sebagai ahli forensik.

Pria kelahiran 15 Maret 1970 ini yang kini menjabat Kepala Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah cukup dikenal di dunia medis dan kepolisian.

Namun, siapa sangka Dudut yang dikenal sebagai pria yang menyenangi dunia forensik ini, saat kecil tak terbersit untuk menjadi seorang dokter.

"Jadi dokter hanya ingin sekadar meneruskan profesi dari ibu. Karena melihat adik-adik saya tidak ada yang berminat untuk menjadi dokter, saya mencoba belajar. Kasian sama ibu tidak ada yang meneruskannya profesinya dokter," ujar Dudut yang mengenakan cincin batu berwarna biru saat diwawancarai Tribun Bali pada september 2014 lalu. 

Ia pun kala itu bercerita pengalaman hidupnya pasca Lulus SMA.

Kepala Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah, dr.Dudut Rustyadi
Kepala Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah, dr.Dudut Rustyadi (Tribun Bali/Eka Mita Suputra)

Dudut ternyata tidak langsung melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran.

Saat itu, ia hanya ikut-ikut teman SMA-nya yang melanjutkan kuliah di Fakultas Teknik Sipil di Universitas Udayana.

Namun, begitu ia masuk kuliah merasa sulit untuk mengikuti tugas-tugas kuliah dan materi kuliah.

Ia pun mendaftar lagi di kedokteran.

"Waktu itu sempat kuliah dua semester di Unud. Lalu masuk daftar lagi kuliah di Fakultas Kedokteran melalui Ujian Masuk Perguruan Tinggi (UMPT).Dari hasil UMPT itu, lulus di Fakultas Kedokteran Universitas 11 Maret Solo. Saya rasa waktu itu tidak berbakat kuliah di Teknik Sipil karena sulit mengerti mengenai soal hitung-hitungan. Logika menurut saya lebih mudah dibanding hitung-hitungan. Dan dari saran-saran yang masuk lebih baik ke kedokteran," imbuh Dudut.

Lulus dari Fakultas Kedokteran, Dudut mengikuti Program Pegawai Tidak Tetap (PTT).

Suami Rui Yani Subekti ini, saat itu ditugaskan ke beberapa puskesmas di Jembrana.

Seperti Puskesmas Gilimanuk, Puskesmas Yeh Kuning Jembrana, dan Puskesmas Ganing Tukad Jembrana.

Saat bertugas di puskesmas Ganing Tukad ia mengatakan, terjadilah bom Bali di Legian Kuta.

Saat itu, ayah dari Dinda Rustyadi dan Dia Dari Rustyadi itu merasa jenuh, lantaran setiap hari harus memeriksa sekitar 150 pasien.

FORENSIK - Suasana di depan Instalasi Forensik RSUD Bangli, Kamis (1/8/2019). RSUD Bangli belum bisa memberikan pelayanan forensik 100 persen untuk kasus-kasus spesfik.
FORENSIK - Suasana di depan Instalasi Forensik RSUD Bangli, Kamis (1/8/2019). RSUD Bangli belum bisa memberikan pelayanan forensik 100 persen untuk kasus-kasus spesfik. (Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury)

Kemudian, alumni SMAN 1 Denpasar ini berpikir dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

"Dokter spesialis apa sih yang tidak memeriksa pasien?" pikirnya saat itu.

Berawal dari insiden bom Bali tersebut, menimbulkan keinginan lulusan SDN 6 Batubulan ini, untuk mengambil spesialis forensik.

Menurutnya, spesialis forensik merupakan seni yang berbeda dengan spesialis lainnya yang ada, serta tidak memeriksa pasien pada umumnya sebagai dokter spesialis.

Akhirnya Dudut pun memutuskan untuk magang menjadi staf di Kedokteran Forensik RSUP Sanglah.

Sekitar setahun setelah magang sebagai staf di forensik RSUP Sanglah, ia merasa jika dirinya senang dan suka dengan dunia spesialis forensik.

"Minta izin kepada pihak Managemen RSUP Sanglah untuk melanjutkan spesialis forensik di Universitas Indonesia.

Sekitar tahun 2007, ia pun lulus sebagai spesialis forensik dan berhasil meraih cumlaud IPK 3.8. Setelah itu, lalu langsung kembali ke Bali dan bekerja di RSUP Sanglah," tambah Dudut.

Dan akhirnya pada tahun 2010 Ia resmi diangkat menjadi Kepala Intstalasi Forensik RSUP Sanglah.

Kini ia menjalani periode yang ke dua.

Kni, setelah 17 tahun berlalu, ia mengaku belum pernah melihat hal ganjil ataupun semacam kejadian supranatural lainnya.

"Alhamdulilah saya gak pernah liat yang aneh-aneh, saya pernah autopsi jam satu sampai jam tiga malam, ya belom pernah sih liat begituan," ungkapnya saat dijumpai Tribun Bali, Selasa (27/8/2019).

Ia mengatakan tidak takut dalam mengautopsi orang yang sudah meninggal.

Justru yang ia takutkan adalah orang yang masih hidup karena menurutnya bisa melawan bahkan membunuh.

"Tidak takut, karena kan orang mati itu gak bakal lukai kita, beda dengan orang hidup, kamu tidur di rumah sendiri ada perampok. Bisa dibunuh sama dia," guraunya sambil tertawa.

Disebut Dokter Mayat 

dr. Dudut menceritakan suka dukanya saat berada di forensik RSUP Sanglah.

Ia mengatakan berada di forensik karena senang membantu dan pada waktu itu tidak banyak dokter yang berkecimpung di bidang forensik.

"Memang saya niatnya itukan untuk menolong ya dalam artian itu tidak banyak kan dokter yang berkecimpung di bidang forensik ini," katanya.

17 tahun telah berlalu ada beberapa hal menurutnya yang menjadi suka duka saat menjalani profesi ini.

"Sukanya saya adalah ketika memeriksa, mengautopsi. Nah dari sana memudahkan penyidik untuk mengungkap kasusnya, bahkan bisa membantu memprofil pelakunya. Itu tentu menjadi kepuasan tersendirilah ya, kita bisa memberikan haknya dia sebagai korban, supaya pelakunya bisa diusut sesuai peraturan," jelasnya.

Selain suka, ia juga mengalami duka.

"Dukanya itu ketika kita ketemu sama orang yang skeptis gitu. Dikatain wah ini dokter mayat, ngobok-ngobok mayat, padahal sesungguhnya yang namanya teknik autopsi itu tidak gampang, saya sekolah loh tiga tahun, ada tekniknya loh autopsi itu tergantung kasus yang ditangani. Itu semua ada ilmunya gak sembarangan. Saya sebel juga," ujarnya. (*) 

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved