Distan Temukan 914 Hektare Sawah Tidak Produktif di Denpasar

Dinas Pertanian Kota Denpasar melakukan pendataan luas sawah produktif tahun 2019 ini.

Distan Temukan 914 Hektare Sawah Tidak Produktif di Denpasar
Tribun Bali/Putu Supartika
Ilustrasi sawah di Denpasar 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Dinas Pertanian Kota Denpasar melakukan pendataan luas sawah produktif tahun 2019 ini.

Pendataan ini juga dilakukan untuk mendata sawah yang sudah non produktif.

Kepala Distan Kota Denpasar, I Gede Ambara Putra mengtakan pemetaan keberadaan lahan produktif dan non produktif ini dilakukan untuk berbagai kepentingan, terutama sebagai upaya peningkatan produktivitas hasil pertanian.

Dikatakan, pemetaan ini bukan saja dilakukan Distan secara mandiri, tetapi menggandeng instansi terkait yang menguasai bidang tersebut.

"Karena dalam pemetaan kali ini bukan saja berdasarkan survei di lapangan bersama pekaseh dan petani, tetapi juga dilakukan secara digital," kata Ambara, Jumat (13/9/2019).

Pemetaan ini dilakukan di semua subak yang ada di Denpasar.

Tiga Kabupaten Bantu Pemadaman, Sepekan Berlalu Asap Kebakaran TPA Mandung Masih Mengepul

Suguhkan Layanan Terbaik, AHM Berhasil Sabet 15 Penghargaan Contact Center

Seperti di Denpasar Utara yang terdiri dari sembilan subak, Denpasar Barat delapan subak, Denpasar Selatan 10 subak dan Denpasar Timur 14 subak.

Luas subak di Denpasar sesuai dengan pendataan Distan Denpasar 2018 seluas 2.170 hektare.

Sedangkan sesuai hasil digitasi BPN dan kegiatan lapangan 2018 mencapai 1.913,94 hektare.

Sementara dalam kegiatan pemetaan sawah non-produktif yang dilakukan tahun 2019 ini didapat seluas 914,88 hektare sawah yang sudah tak produktif.

Sama-sama Tokoh Besar dalam Teknologi, Bill Gates Mengaku Iri dengan Sifat Steve Jobs

Pedagang Kain Minta Tolong ke Dewan, Khawatir Digusur Paksa dari Lantai II Pasar Kidul Bangli

"Yang tergolong tidak produktif ini hanya untuk jenis padi. Karena masih ditanami jenis lain, seperti kedelai, jagung, semangka, serta yang lainnya. Sawahnya masih ada, namun sudah kering," kata Ambara.

Melalui pemetaan ini, pihaknya akan lebih tepat dalam memberikan bantuan seperti bantuan benih, pupuk, serta subsidi lainnya.

"Melalui data yang pasti ini, kami yakin tidak akan ada lagi bantuan yang mubazir ke petani. Karena selain survei lapangan, kami juga memiliki data digital yang akurat," katanya. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved