Alim Markus Tidak Hadir untuk Bersaksi, Sidang Sudikerta Cs Ditunda hingga Pekan Depan

Sidang ditunda setelah tim penasihat hukum para terdakwa keberatan karena JPU belum bisa menghadirkanyakni bos Maspion Grup, Alim Markus

Alim Markus Tidak Hadir untuk Bersaksi, Sidang Sudikerta Cs Ditunda hingga Pekan Depan
Tribun Bali/Nyoman Mahayasa
Kiri: Terdakwa I Wayan Wakil menggunakan kursi roda saat memasuki ruang sidang Pengadilan Negeri Denpasar, Kamis (3/10/2019). Kanan: Ketut Sudikerta, Wayan Wakil, dan Anak Agung Ngurah Agung ketika menjalani sidang kasus dugaan penipuan jual beli tanah. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Majelis hakim PN Denpasar menunda sidang lanjutan perkara tindak pidana pencucian uang, penipuan atau penggelapan dan pemalsuan senilai Rp 150 miliar dengan terdakwa I Ketut Sudikerta (51), I Wayan Wakil (51) dan Anak Agung Ngurah Agung (68).

Sidang ditunda setelah  tim penasihat hukum (PH)  para terdakwa keberatan karena Jaksa Penuntut Umum (JPU) belum bisa menghadirkan saksi korban yakni bos Maspion Grup, Alim Markus.

Selain Alim Markus, dua saksi yang belum bisa dihadirkan adalah Eskha Kanasut dan Sugiarto.

Keduanya berhalangan hadir karena masih menjalani pemeriksaan kesehatan.

"Tiga orang saksi belum bisa kami hadirkan, termasuk saksi korban. Beliau (saksi korban) sedang di luar negeri dan tanggal 10 Oktober 2019  akan datang bersaksi. Hari ini hanya ada tiga orang saksi yang hadir," ujar Jaksa Eddy Arta Wijaya di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Kamis (3/10/2019).

Tidak hanya keberatan, tim penasihat hukum terdakwa I Wayan Wakil dan Ngurah Agung juga mengajukan permohonan penangguhan penahanan.

Penangguhan penahanan diajukan Agus Sujoko dkk karena I Wayan Wakil tengah mengidap penyakit diabetes akut dan harus dirawat. Ini berdasarkan surat rujukan dari dokter RSUP Sanglah.

"Kami mengajukan ke majelis hakim permohoanan agar klien kami dirawat inap. Ini berdasarkan rekam medis dari dokter," pinta Agus Sujoko dalam persidangan.

Terhadap permohonan itu, Hakim Ketua Esthar Oktavi menyatakan akan mempelajari terlebih dahulu.

"Kami akan pelajari dulu permohonannya dan bermusyawarah ya," kata Hakim Ketua Esthar Oktavi.

Halaman
123
Penulis: Putu Candra
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved